Aku menari... mengikuti irama yang diciptakan Sang Pemilik hidup untukku... Membuat ritme-nya terlihat halus, indah dan gemulai... Inilah aku.
7.05.2011
All About BC
it's all about you BC...
bakal ada yg begini ini di kubikel kerja saya...
post it- post it bernasib sial yang harus kita corupt untuk menyampaikan "something" yg kadang hanya efektif jika diverbalisasikan...
sebodo ah!
lebih asik begini!!!
:))
kalo yang ini mah saya pas lagi iseng...
dari pada nganggur, bukalah si saliyem a.k.a laptop jaman purba saya
dikit tempel sono-sini,
merangkai kata (bgitu doang juga)
jadi deh...
mayan ... si BC bisa bersemu-semu a la bbm tu
xixixi
:))
yang ini saya buat di suatu siang, dalam kamar kost, dengan duduk diatas kasur
dan (lagi) berbekal saliyem dan setumpukan kata-kata yang memenuhi dada,
dan lagi...saking nganggurnya pula...
jadilah ini...
ada salah kata tu... "it" mustinya jadi "it's"...gitu kata si BC
(okay ...I know... kamu editor handal, dear..)
Woooopss!!!
:-O
yang ini nampaknya agak-agak "HOT"
come on!
lihat ke art-nya...
ini rangkuman dari momment-momment yg kita lalui bersama...
hihiiiii
:">
this is the last ...
yang paling terakhir yang saya buat ya ini
nothin' special...
hanya mencari media untuk menyampaikan sesuatu yang kadang susah diverbalisasikan...
That's all!!!
benernya saya juga lagi bingung mo posting apa...
udah berapa lama juga gak posting...
:)
6.17.2011
6.16.2011
4.15.2011
Untuk Khaiyla – Abisena (14/4/11)
(Kelak aku akan mengajakmu naik kereta kelinci, Khaila,..Abisena)
Kelak aku akan memberimu nama Khaiyla. Mengapa? Karena entah kenapa aku jatuh cinta pada nama itu sebelum kau ada. Lalu aku berjanji dalam hatiku, dengan bulat tekatku, akan kuhentikan cumbuanku dengan benda putih panjang ini, untuk menyiapkan tempat ternyaman agar bisa kau tinggali selama bersemayam dalam rahimku. Lalu aku akan mengubah pola hidupku. Aku akan meminum cairam putih lain yang penuh kalsium, yang sebelumnya kukutuk dengan ratus bahkan ribuan kata sebelumnya. Beberapa gelas susu untuk pertumbuhanmu. Aku akan menyiapkan asupan gizi terbaik melalui diriku, lewat pencernaanku yang nanti akan kau hisap melalui plasentamu yang tertanam juga dalam ragaku.
Nanti aku akan berjanji untuk selalu bersabar melewati 270 hari selama aku bersatu denganmu, demi menjaga agar hormone kortisol-ku untuk tak meracuni perkembanganmu. Karena sungguh, aku benar-benar mencintaimu. Menginginkanmu tumbuh menjadi kehidupan baru yang akan kubahagiakan nanti. Aku pasti akan menjadi sangat excited dan bahagia di setiap harinya ketika menunggu kedatanganmu. Lalu di bulan ketujuh, aku akan mulai addict untuk mendatangi baby shop, mempersiapkan atributmu, baju-baju mungil itu, yang kuning, yang hijau mint, atau putih, entah kenapa aku tak begitu menyukai serba pink untukmu sayang, aku tak ingin kau terlihat cengeng, Khaiylaku. Bukan masalah sebenarnya, karena kamu akan tetap cantik dan lucu tanpa warna pink sekalipun dalam hidupmu. Itu terlalu cengeng kukira. Lalu aku dan Papamu pasti akan berlama-lama memilih baby troller untukmu sayang. Aku akan memilih satu atau dua yang paling kuat, paling nyaman dan paling cantik untuk kau tiduri saat kami mengajakmu berkeliling menjemur kulit cantikmu di bawah hangat matahari pagi, agar pertumbuhanmu makin baik, agar kamu menjadi Khaiyla kami yang cantik dan sehat.
Kelak aku akan rela menebus sakit untuk bisa mendengar tangisan pertamamu ketika tiba masaku melahirkanmu, tangis pertama yang kunantikan, saat kau berjuang melakukan mekanisme pernapasan pertamamu, Khaiyla. Lalu aku akan membiarkanmu melakukan usaha pertamamu memperjuangkan kehidupan di masa inisiasimu. Mengamati keajaiban demi keajaiban saat pertama kamu memulai kehidupanmu, bersamaku. Tak bisa kubayangkan bagaimana bahagianya memeluk tubuh mungilmu untuk pertama kalinya. Mungkin aku akan menangis haru, karenamu, karenaku, dan segala keajaiban yang telah aku lewati bersamamu. Tentu saja juga berkat Papamu yang mau atau harus kupaksa untuk menemaniku sambil menggenggam tanganku selama proses persalinanku untuk membuatmu berada nanti.
****
Kelak aku akan memberimu sebuah nama, Abisena. Kenapa? Entahlah, aku juga tak tau kenapa aku begitu menginginkanmu untuk memilikinya. Nama yang memiliki arti yang tak pernah bisa persis ku definisikan sebelumnya. Abisenaku. Kelak kamu akan menjadi bocah yang lucu, kamu akan mewarisi sedikit dari Papamu, dan sedikit pula dariku. Karena kamu adalah Abisena, anugerah cinta antara aku dan Papamu. Aku membayangkan kamu memiliki mata yang serupa dengan milik Papamu, yang saat menatapnya aku akan melihat banyak harapan dan kebahagiaan di dalam sana.
Lalu aku akan rela menghentikan kebiasaanku yang lain, yang mungkin saja bisa merusak tempat ternyamanmu saat kamu menyatu dengan ragaku. Aku akan meninggalkan bercangkir-cangkir cairan hitam yang membuatku tergila-gila sebelumnya, sumber inspirasiku selain Papamu. Aku berjanji dalam hatiku, aku akan menggantinya dengan asupan vitamin dan gizi yang cukup untukmu. Aku akan rela memamah dan menelan berbagai sayuran untuk memberimu asupan terbaik melalui satu-satunya saranaku berbagi denganmu, plasentaku. Aku akan berolah raga, aku akan ikut pilates atau yoga untuk perkembanganmu, demi mendapatkan kesehatan untukmu kelak.
Aku memimpikan kamu ada diantara aku dan Papamu, tergelak diantara tawa bahagia kami. Lalu kamu akan menjadi jagoan kami, bukan kah lelaki identik dengan jagoan, Abisena? Kelak aku akan memilihkan metode terbaik demi nyaman menanti kelahiranmu, Abisena. Ah tidak! Apapun akan menjadi membanggakan asal aku bisa melahirkanmu dengan sempurna, asal itu tak menyakitimu dan tak mengurangi keajaiban Tuhan atas anugerahNya melaluimu.
Lalu Papamu akan menggerutu karena harus berlama-lama menungguku memilih seragam serba biru untukmu. Topi hangat, bantal mungil, feeding set, dan sepatu hangat, semuanya akan berwarna biru, biru yang tenang dan damai. Dan aku berjanji akan bersorak paling kencang merayakannya jika suatu saat nanti adalah kata “Mama” yang pertama kali kau sebut. Atas alasan apapun aku tak ingin kalah dengan Papamu untuk menyita kebahagiaan darimu, Abisena.
****
14.04.11
Aku sedang duduk di emperan jalan. Di sebuah café tenda emperan jalan, duduk sendirian di sebuah meja kecil dengan 4 kursi plastik tanpa sandaran. Secangkir cinnamon coffee masih mengepulkan asap panas, sebatang rokok terselip diantara sudut bibirku, mencoba mencampakkan dingin yang menggelayuti sepasang paha telanjang, mengamati sepasang suami-istri dan seorang batita lelaki yang sedang mengaduk-aduk makanan mamanya.
“Entah aku akan memiliki yang mana, tapi aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk salah satu dari kalian,…Khaiyla, … Abisena. Suatu saat pun dua benda ini akan enyah diantara jemariku dan hidupku, demi salah satu diantara kalian, aku akan mengganti hidupku dengan satu yang lebih baru, bersama entah nanti siapapun yang akan menjadi Papamu, menemaniku membahagiakanmu, Nak.”
Kelak aku akan memberimu nama Khaiyla. Mengapa? Karena entah kenapa aku jatuh cinta pada nama itu sebelum kau ada. Lalu aku berjanji dalam hatiku, dengan bulat tekatku, akan kuhentikan cumbuanku dengan benda putih panjang ini, untuk menyiapkan tempat ternyaman agar bisa kau tinggali selama bersemayam dalam rahimku. Lalu aku akan mengubah pola hidupku. Aku akan meminum cairam putih lain yang penuh kalsium, yang sebelumnya kukutuk dengan ratus bahkan ribuan kata sebelumnya. Beberapa gelas susu untuk pertumbuhanmu. Aku akan menyiapkan asupan gizi terbaik melalui diriku, lewat pencernaanku yang nanti akan kau hisap melalui plasentamu yang tertanam juga dalam ragaku.
Nanti aku akan berjanji untuk selalu bersabar melewati 270 hari selama aku bersatu denganmu, demi menjaga agar hormone kortisol-ku untuk tak meracuni perkembanganmu. Karena sungguh, aku benar-benar mencintaimu. Menginginkanmu tumbuh menjadi kehidupan baru yang akan kubahagiakan nanti. Aku pasti akan menjadi sangat excited dan bahagia di setiap harinya ketika menunggu kedatanganmu. Lalu di bulan ketujuh, aku akan mulai addict untuk mendatangi baby shop, mempersiapkan atributmu, baju-baju mungil itu, yang kuning, yang hijau mint, atau putih, entah kenapa aku tak begitu menyukai serba pink untukmu sayang, aku tak ingin kau terlihat cengeng, Khaiylaku. Bukan masalah sebenarnya, karena kamu akan tetap cantik dan lucu tanpa warna pink sekalipun dalam hidupmu. Itu terlalu cengeng kukira. Lalu aku dan Papamu pasti akan berlama-lama memilih baby troller untukmu sayang. Aku akan memilih satu atau dua yang paling kuat, paling nyaman dan paling cantik untuk kau tiduri saat kami mengajakmu berkeliling menjemur kulit cantikmu di bawah hangat matahari pagi, agar pertumbuhanmu makin baik, agar kamu menjadi Khaiyla kami yang cantik dan sehat.
Kelak aku akan rela menebus sakit untuk bisa mendengar tangisan pertamamu ketika tiba masaku melahirkanmu, tangis pertama yang kunantikan, saat kau berjuang melakukan mekanisme pernapasan pertamamu, Khaiyla. Lalu aku akan membiarkanmu melakukan usaha pertamamu memperjuangkan kehidupan di masa inisiasimu. Mengamati keajaiban demi keajaiban saat pertama kamu memulai kehidupanmu, bersamaku. Tak bisa kubayangkan bagaimana bahagianya memeluk tubuh mungilmu untuk pertama kalinya. Mungkin aku akan menangis haru, karenamu, karenaku, dan segala keajaiban yang telah aku lewati bersamamu. Tentu saja juga berkat Papamu yang mau atau harus kupaksa untuk menemaniku sambil menggenggam tanganku selama proses persalinanku untuk membuatmu berada nanti.
****
Kelak aku akan memberimu sebuah nama, Abisena. Kenapa? Entahlah, aku juga tak tau kenapa aku begitu menginginkanmu untuk memilikinya. Nama yang memiliki arti yang tak pernah bisa persis ku definisikan sebelumnya. Abisenaku. Kelak kamu akan menjadi bocah yang lucu, kamu akan mewarisi sedikit dari Papamu, dan sedikit pula dariku. Karena kamu adalah Abisena, anugerah cinta antara aku dan Papamu. Aku membayangkan kamu memiliki mata yang serupa dengan milik Papamu, yang saat menatapnya aku akan melihat banyak harapan dan kebahagiaan di dalam sana.
Lalu aku akan rela menghentikan kebiasaanku yang lain, yang mungkin saja bisa merusak tempat ternyamanmu saat kamu menyatu dengan ragaku. Aku akan meninggalkan bercangkir-cangkir cairan hitam yang membuatku tergila-gila sebelumnya, sumber inspirasiku selain Papamu. Aku berjanji dalam hatiku, aku akan menggantinya dengan asupan vitamin dan gizi yang cukup untukmu. Aku akan rela memamah dan menelan berbagai sayuran untuk memberimu asupan terbaik melalui satu-satunya saranaku berbagi denganmu, plasentaku. Aku akan berolah raga, aku akan ikut pilates atau yoga untuk perkembanganmu, demi mendapatkan kesehatan untukmu kelak.
Aku memimpikan kamu ada diantara aku dan Papamu, tergelak diantara tawa bahagia kami. Lalu kamu akan menjadi jagoan kami, bukan kah lelaki identik dengan jagoan, Abisena? Kelak aku akan memilihkan metode terbaik demi nyaman menanti kelahiranmu, Abisena. Ah tidak! Apapun akan menjadi membanggakan asal aku bisa melahirkanmu dengan sempurna, asal itu tak menyakitimu dan tak mengurangi keajaiban Tuhan atas anugerahNya melaluimu.
Lalu Papamu akan menggerutu karena harus berlama-lama menungguku memilih seragam serba biru untukmu. Topi hangat, bantal mungil, feeding set, dan sepatu hangat, semuanya akan berwarna biru, biru yang tenang dan damai. Dan aku berjanji akan bersorak paling kencang merayakannya jika suatu saat nanti adalah kata “Mama” yang pertama kali kau sebut. Atas alasan apapun aku tak ingin kalah dengan Papamu untuk menyita kebahagiaan darimu, Abisena.
****
14.04.11
Aku sedang duduk di emperan jalan. Di sebuah café tenda emperan jalan, duduk sendirian di sebuah meja kecil dengan 4 kursi plastik tanpa sandaran. Secangkir cinnamon coffee masih mengepulkan asap panas, sebatang rokok terselip diantara sudut bibirku, mencoba mencampakkan dingin yang menggelayuti sepasang paha telanjang, mengamati sepasang suami-istri dan seorang batita lelaki yang sedang mengaduk-aduk makanan mamanya.
“Entah aku akan memiliki yang mana, tapi aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk salah satu dari kalian,…Khaiyla, … Abisena. Suatu saat pun dua benda ini akan enyah diantara jemariku dan hidupku, demi salah satu diantara kalian, aku akan mengganti hidupku dengan satu yang lebih baru, bersama entah nanti siapapun yang akan menjadi Papamu, menemaniku membahagiakanmu, Nak.”
3.09.2011
"KONVENSIONAL"
Aku menyayangkan sesamaku. Sesamaku yang kurang mampu menghargai dirinya dengan cara yang paling beradap menurut segala pergeseran makna era ini. Kata orang manusia jaman sekarang mem-binatang. Kataku manusia era ini hanya sedang asik-asiknya menggunakan dorongan hewani-nya untuk merealisasikan segala drive yang bersarang dalam diri mereka. Sebenarnya bukan lantaran sekarang jaman bebas, maka semua bisa senang-senang, suka-suka, semau gue, seenak perut gue. Sebenarnya jika mau dinalar –dengan akal yang masih fungsional dengan norma yang semakin banyak pengkondisian dan penyesuaian dengan pergeseran jaman- yang semau gue, suka-suka gue dan seenak gue tadi masih tetap memiliki batasannya.
Come on!
Kita hidup dalam ruang tak terbatas yang dinamai DUNIA, yang berarti KITA tidak sedang berdiri sendiri memiliki ruangan ini. Bahkan pada wacana ini “KITA” adalah subjek jamak yang berarti beberapa. Lalu bagaimana beberapa sesama saya di luar sana dengan pongah, petentang-petenteng meng”aku-aku”kan dirinya sebagai individu yang berdiri sendiri lantas bisa bertingkah semaunya dengan men-subjek-kan orang lain sebagai figuran tak penting dalam kehidupan mereka.
Sudah bijakkah?
Bukan berarti disini wacana yang saya angkat adalah sebuah pembenaran dari tataran nilai-nilai sosial kemanusiaan yang mendewakan unggah-ungguh, kebersamaan dan empati, bahkan bukan sekedar itu. Sebenarnya melalui ruang sempit ini saya ingin mengajak sesama saya untuk kembali menjadi gelas setengah penuh (karena mungkin tidak semua kalimat saya ada benarnya dan ada sesuainya) untuk menerima sedikit perenungan kecil tentang hidup.
Belakangan ini saya sering mengandai-andai bila di bola besar yang kita pijak dan dinamai bumi ini sedang diberlakukan satu aturan konvensional yang serempak dan universal.
Bagaimana jika seisi bumi menyepakati untuk tidak boleh mencintai sesama jenis?
Bagaiman jika seisi bumi ini menyetujui aturan untuk tidak mengijinkan sebuah life style terkini yang kita kenal dengan samen leven?
Bagaimana jika seisi bumi ini mengutuk suatu cairan senyawa melenakan yang disebut alcohol?
Bagaimana jika seisi bumi ini melarang adanya perceraian?
Bagaimana jika seisi bumi ini melarang adanya perceraian?
Apakah seperti ini kehidupan yang dimaui seisi bumi?
TIDAK!
Saya berani jamin!
Hei! Bukankah hidup ini adalah kenyataan yang paling berwarna ragam dan ceritanya? Apa kalian pikir akan ada objek yang bisa dipelajari oleh para ilmuwan, cendekiawan dan orang-orang yang 70% dari otaknya itu berisi semacam kerutan dan area abu-abu, jika ternyata dunia ini isinya adem-adem aja?!
Apa kalian pikir hidup ini akan mencapai homeostatis kekal jika semuanya baik-baik saja?
Apa ada yang lupa kalau di dalam rumus hidup itu ada suatu istilah yang berbunyi “DI-NA-MI-KA”??
Apa ada yang lupa kalau di dalam rumus hidup itu ada suatu istilah yang berbunyi “DI-NA-MI-KA”??
Itulah kenapa pada akhirnya manusia akan saling membutuhkan satu sama lain. Yang ingin selingkuh akan membutuhkan pasangan selingkuh, yang ingin menjalin cinta juga membutuhkan pasangan bercinta, yang ingin cari gara-gara juga pasti butuh musuh. Ini yang kita namai dikotomi ‘kan?
Segalanya berpasangan, dan segalanya berlawanan.
Siang-Malam ; Baik-Buruk; Lelaki-Perempuan; Kalah-Menang…
Apakah menyenangkan hidup yang hanya lempeng-lempeng saja? Apakah ada yang kita curi, ambil, petik sebagai nilai untuk dipelajari jika hidup ini isinya seragam?
Dan syukurlah kita ini hidup di DUNIA NYATA yang dimana di dalamnya ada nano-nano cerita, ada aneka ragam manusia dan jenis perwatakannya. Kita mungkin tidak bisa menyeragamkan nilai, kita mungkin tidak bisa menyelaraskan langkah tujuan, tapi setidaknya kita ini masih sangat-amat mampu menemukan cara paling manusiawi untuk menjadi manusia kan?
Yang mau samen leven ya sudah, sana jalani hidupmu, asal jangan ganggu orang lain, asal jangan rusak generasi lain, simpan segala alasan “terkuat” apapun yang kalian punya untuk membenarkan pilihan kalian, tapi jangan sebarkan pada publik. Saya tidak membenarkan life style ini, tapi saya juga tidak pernah menyalahkan ini, toh semua keputusan sudah didasari dengan niat dan maksud kan? Lalu apa masalahnya jika mereka saja (si pemeran utama) sudah cukup siap dan tangguh untuk menghadapi segala macam resikonya? Nggak mungkin juga ‘kan orang bebrbuat tanpa terlintas kemungkinan apapun yang akan terjadi setelahnya? Pasti ada, pasti terlinta, walau hanya sementara atau benar-benar sepintas lalu. Yang saya sayangkan adalah tingkah “SOK PAMER” orang-orang macam ini, apa baiknya sih pamer-pamer hal yang kita tau banyak tidak disetujui orang lain? Ya sudah to, main sembunyi-sembunyian, tutup rapih dan bertingkahlah sopan. Di situ saja point nya buat saya.
Yang saya kecewakan dari berbagai persepsi public adalah bahwa “akhlak” manusia yang luar biasa bagusnya ini hanya diukur seputar dengan urusan selangkangan dan alcohol.
Sayang sekali kan?
Apakah tidak ada sesama saya di luar sana yang berakhlak ‘kacau’ walaupun dia tidak terlibat dengan 2 hal yang menjadi parameter tadi? Apa kabar dengan beberapa pelajar manis-manis kucing yang tumbuh dan dewasa hanya untuk menjadi seorang koruptor atau sekedar perampas hak sesamanya walaupun dirinya terbebas dari godaan selangkangan dan alcohol? Apakah ini cukup beradab?
Apakah bijak juga bila sepasang penganut life style samen leven dan seorang pecinta alcohol akan ditolak niat baiknya untuk sekedar membagi kebahagiaannya dengan sesamanya yang membutuhkan? Ada jaminan darimana bahwa apapun yang mereka berikan adalah sama haramnya dengan apa yang mereka geluti?
Apakah kamu akan membenci ibumu yang mantan alcohol addict, lalu melupakan jasa besarnya dalam mengandung, melahirkan, membesarkan dan mengajarimu mengeja A-B-C ?!
Nah!
Bisakah mulai sekarang kita memfokuskan pada pembenahan diri masing-masing terlebih dahulu sebelum mengoreksi dan menginterupsi orang lain? Setidaknya jangan membuat diri sendiri kecewa dan malu dikemudian hari karena idealis sendiri.
Percayalah bahwa semua makhluk di dunia ini memiliki banyak kesempatan dan pilihannya masing-masing untuk menjalani hidup mereka?
Bukan berarti kita tidak berhak untuk berempati, bersimpati dan mengingatkan. Tapi cobalah untuk menjadi manusia yang paling manusiawi, setidaknya untuk dirimu sendiri.
3.01.2011
BAHASA HATI
Yang perempuan sibuk di hadapan layar menyala, menyeruput kopi sesekali, meneguk, mencecap bekas yang masih melekat di lidah. Matanya nyalang menatap benda datar menyala. Jemarinya liar bergerak kesana-kemari, sedang merangkai aksara yang tercecer dalam khayalnya. Wajahnya kaku, beku kehilangan suhu yang semestinya tertinggal setelah pergumulan setengah jam sebelumnya. Cepat sekali dia mendingin.
Yang lelaki sedang sibuk dengan seperangkat multimedia lain. Monitor dengan jumawa bertahta di hadapannya, kini malam menjadi miliknya bersama benda mati itu. Sebatang rokok menyembul di sela telinganya, sebatang lagi sedang berasap terselip di sudut kanan bibirnya, kurang lebih begitu caranya mencari bahasa. Menerjemahkan rasa pada bait-bait kata. Wajahnya dingin, seakan hangat tak mau berlama-lama mendekam dalam dirinya, lupa bahwa setengah jam lalu dia adalah pria paling hangat di muka bumi ini.
***
“Aku membunuh kata-kata.”
“Aku juga mengaborsi bait-bait patahati dari rahimku.”
“Kita berubah menjadi pembunuh atas kehidupan kita masing-masing.”
“Bukan. Kita hanya lupa bagaimana cara meniupkan napas pada mereka hingga mereka ingat cara menjadi hidup dalam diri kita.”
“Ya,…aku rasa”
“Ya,…mungkin saja”
Yang laki-laki merosot dari singgasana malamnya. Yang perempuan melengos dari bilik nyaman kesayanganya, lalu mereka sibuk bersandang, menutupi luka borok masing-masing.
Yang laki-laki turun dari kasur, mengecup singkat kening Si Perempuan, tanpa senyum, hangat benar-benar lupa permisi, pergi begitu saja. Yang perempuan bangkit dari kasur, menyalakan rokok dari meja nakasnya, kembali ke bilik pribadinya. Rupanya hangat juga hanya sekedar singgah sejenak di dirinya. Dua insan ini budak. Budak dari kata-kata yang mendoktrin makna – demi makna yang mereka gumuli dengan penuh hasrat yang tersisa dari sekedar hidup mereka. Bagi mereka, cinta sekedar rasa yang berujung pada sebentuk ilham yang akhirya mereka tuangkan sambil berlama-lama bersenggama dengan multimedia. Mereka bukan tak bisa bercinta. Mereka hanya lupa bagaimana benarnya merasakan cinta. Mereka hanya sekedar membagi, menjadi sarana rasa satu sama lain.
***
***
Perempuan.
Aku kehilangan rasaku. Dia yang sedang duduk tersita jiwanya disana adalah pasanganku, ntah kami bisa disebut apa, aku membutuhkannya untuk melahirkan kata-kata, aku menginginkannya ada untuk membantuku menemukan rasa untuk memungut ceceran kata yang kucampakkan di sudut hatiku sana. Dia yang sedang tersandera bahasa itu, adalah pasanganku. Kami berbagi cara menemukan jiwa bagi kata-kata kami. Entah kami bisa disebut apa. Aku hanya membutuhkannya untuk ini itu demi lakihkan tulisanku. Tapi demi Tuhan, aku benar-benar tak ingin kehilangan dirinya, dengan satu alasan yang entah apa. Belum kupelajari tingkat abstraksinya hingga mampu ku deskripsikan persis dengan bendahara bahasaku, melalui metamorf-ku.
“Katakan kamu mencintaiku.” Suatu malam aku memintanya, ditengah-tengah ritual berbagi kami.
“Aku mencintaimu… sangat mencintaimu.” Demi Tuhan ada sesuatu yang bergemuruh di dadaku, semacam bentuk rasa yang selalu ku terjemahkan dalam bahasa tulisku. Ironisnya aku meragukan rasa itu ketika aku diambang pintumu.
“Apakah kau membutuhkanku?” Masih dengan penyangkalan rasa yang sama, aku mengingkari isyarat hatiku.
“Apakah aku bisa memintamu untuk itu?”
“Tak perlu. Aku memberinya cuma-cuma padamu. Seutuhnya.”
“Aku menerimamu, seutuhmu..”
Kamu tak pernah tau. Aku sedang gamang dengan tatapmu, dengan katamu, dengan sentuhanmu. Kamu tak pernah tau, aku kehilangan sesuatu bila kamu pergi ke sudut sana dan mencampakkanku.
***
Lelaki.
“Katakan kamu mencintaiku..” suatu malam disaat perjamuan kita berlangsung, kamu mengatakannya. Demi Tuhan ada yang berdesir lirih di dadaku. Tanpa kau minta aku akan mengatakannya padamu, sebentuk rasaku, yang walaupun kadang tak kumengerti tapi pasti kuyakini.
“Aku mencintaimu..” aku mengucapkannya dengan caraku, yang mungkin tak mampu membuatmu yakin dengan tatapku. “sangat mencintaimu..” aku meyakinkanmu kali ini. Kumohon, percayalah. Aku hanya tak bisa dengan baik menyampaikannya. Kumohon jangan tatap aku dengan tatapan nanar seperti itu, benar adanya aku memang sangat mencintaimu.
“Apakah kau membutuhkanku?” hampir roboh aku kau hantam tanya itu. Miris hatiku mendengar itu. KKau tak mempercayaiku yang menyampaikan rasaku padamu dengan satu-satunya caraku. Kumohon percayalah, aku hanya tak pandai menyampaikannya dengan kata, aku hanya bisa bermain bahasa.
“Apakah aku bisa memintamu untuk itu?” Demi Tuhan kali ini aku benar-benar memintamu. Percayalah padaku, pada apa yang kuberikan padamu, pada apa yang kuminta darimu.
“Tak perlu. Aku memberinya cuma-cuma padamu. Seutuhnya.” Kamu tetap menatapku dengan cara yang sama. Mata nanarmu melukai hatiku yang sedang memohon padamu.
“Aku menerimamu, seutuhmu..” Semoga kamu mengerti, aku bermaksud untuk memelukmu sepenuhnya menjagamu. Semoga.
Kamu tak pernah tau, aku sangat menginginkanmu percaya bahwa aku sangat menginginkanmu seutuhnya. Aku hanya tak mampu memberitahukannya dengan cara termudah untuk kau pahami. Aku selalu pergi ke sudut sana, terduduk kaku di depan monitor, bukan bersibuk diri dengan bahasa, bukan apa-apa, aku hanya sedang membunuh takut dalam diriku untuk memintamu mencintaiku. Aku hanya tak mampu mencari cara terbaik untuk memberitahumu.
***
“Aku ingin bicara”
“Bisakah kau bicara setelah aku bicara padamu sebelumnya?”
“Soal apa?”
“Soal hati..”
“Kenapa?”
“Entahlah, aku hanya sedang tak menemukan kata yang tepat untuk kujadikan penghantar rasa suciku padamu”
“Tak usah. Karena aku juga tak mampu menemukan kata yang pasti untuk memberitahumu seberapa entah apa ukuran yang pasti untuk menunjukkan rasaku padamu”
“Apakah ini soal cinta ataukah ini soal kasih aku tak pandai berkata-kata dalam bahasa”
“Ya, apakah ini tentang rasa apakah ini perkara asmara aku juga tak tau pasti.. aku tak pintar berolah kata dengan bahasa”
“Ada debar yang tak mau kuredam untuk diam saat aku bersamamu, dan ada getar yang menggelegar tak mau berdamai denganku saat aku jauh darimu…apa kau tau?”
“Mungkin semacam desir lirih yang tak pernah mati bisikkan namamu di hatiku, yang semakin nanti semakin membuatku menggelepar jika aku tak bertemu kamu…”
“Apakah aku mencintaimu?”
“Aku tak tau. Tapi kau cukup tau aku mencintaimu, lepas dari sebentuk rasa yang saat ini kau yakini hanya untukku atau apalah itu. Cukup aku mencintaimu. Dan semua akan baik-baik saja.”
Aku kehilangan rasaku. Dia yang sedang duduk tersita jiwanya disana adalah pasanganku, ntah kami bisa disebut apa, aku membutuhkannya untuk melahirkan kata-kata, aku menginginkannya ada untuk membantuku menemukan rasa untuk memungut ceceran kata yang kucampakkan di sudut hatiku sana. Dia yang sedang tersandera bahasa itu, adalah pasanganku. Kami berbagi cara menemukan jiwa bagi kata-kata kami. Entah kami bisa disebut apa. Aku hanya membutuhkannya untuk ini itu demi lakihkan tulisanku. Tapi demi Tuhan, aku benar-benar tak ingin kehilangan dirinya, dengan satu alasan yang entah apa. Belum kupelajari tingkat abstraksinya hingga mampu ku deskripsikan persis dengan bendahara bahasaku, melalui metamorf-ku.
“Katakan kamu mencintaiku.” Suatu malam aku memintanya, ditengah-tengah ritual berbagi kami.
“Aku mencintaimu… sangat mencintaimu.” Demi Tuhan ada sesuatu yang bergemuruh di dadaku, semacam bentuk rasa yang selalu ku terjemahkan dalam bahasa tulisku. Ironisnya aku meragukan rasa itu ketika aku diambang pintumu.
“Apakah kau membutuhkanku?” Masih dengan penyangkalan rasa yang sama, aku mengingkari isyarat hatiku.
“Apakah aku bisa memintamu untuk itu?”
“Tak perlu. Aku memberinya cuma-cuma padamu. Seutuhnya.”
“Aku menerimamu, seutuhmu..”
Kamu tak pernah tau. Aku sedang gamang dengan tatapmu, dengan katamu, dengan sentuhanmu. Kamu tak pernah tau, aku kehilangan sesuatu bila kamu pergi ke sudut sana dan mencampakkanku.
***
Lelaki.
“Katakan kamu mencintaiku..” suatu malam disaat perjamuan kita berlangsung, kamu mengatakannya. Demi Tuhan ada yang berdesir lirih di dadaku. Tanpa kau minta aku akan mengatakannya padamu, sebentuk rasaku, yang walaupun kadang tak kumengerti tapi pasti kuyakini.
“Aku mencintaimu..” aku mengucapkannya dengan caraku, yang mungkin tak mampu membuatmu yakin dengan tatapku. “sangat mencintaimu..” aku meyakinkanmu kali ini. Kumohon, percayalah. Aku hanya tak bisa dengan baik menyampaikannya. Kumohon jangan tatap aku dengan tatapan nanar seperti itu, benar adanya aku memang sangat mencintaimu.
“Apakah kau membutuhkanku?” hampir roboh aku kau hantam tanya itu. Miris hatiku mendengar itu. KKau tak mempercayaiku yang menyampaikan rasaku padamu dengan satu-satunya caraku. Kumohon percayalah, aku hanya tak pandai menyampaikannya dengan kata, aku hanya bisa bermain bahasa.
“Apakah aku bisa memintamu untuk itu?” Demi Tuhan kali ini aku benar-benar memintamu. Percayalah padaku, pada apa yang kuberikan padamu, pada apa yang kuminta darimu.
“Tak perlu. Aku memberinya cuma-cuma padamu. Seutuhnya.” Kamu tetap menatapku dengan cara yang sama. Mata nanarmu melukai hatiku yang sedang memohon padamu.
“Aku menerimamu, seutuhmu..” Semoga kamu mengerti, aku bermaksud untuk memelukmu sepenuhnya menjagamu. Semoga.
Kamu tak pernah tau, aku sangat menginginkanmu percaya bahwa aku sangat menginginkanmu seutuhnya. Aku hanya tak mampu memberitahukannya dengan cara termudah untuk kau pahami. Aku selalu pergi ke sudut sana, terduduk kaku di depan monitor, bukan bersibuk diri dengan bahasa, bukan apa-apa, aku hanya sedang membunuh takut dalam diriku untuk memintamu mencintaiku. Aku hanya tak mampu mencari cara terbaik untuk memberitahumu.
***
“Aku ingin bicara”
“Bisakah kau bicara setelah aku bicara padamu sebelumnya?”
“Soal apa?”
“Soal hati..”
“Kenapa?”
“Entahlah, aku hanya sedang tak menemukan kata yang tepat untuk kujadikan penghantar rasa suciku padamu”
“Tak usah. Karena aku juga tak mampu menemukan kata yang pasti untuk memberitahumu seberapa entah apa ukuran yang pasti untuk menunjukkan rasaku padamu”
“Apakah ini soal cinta ataukah ini soal kasih aku tak pandai berkata-kata dalam bahasa”
“Ya, apakah ini tentang rasa apakah ini perkara asmara aku juga tak tau pasti.. aku tak pintar berolah kata dengan bahasa”
“Ada debar yang tak mau kuredam untuk diam saat aku bersamamu, dan ada getar yang menggelegar tak mau berdamai denganku saat aku jauh darimu…apa kau tau?”
“Mungkin semacam desir lirih yang tak pernah mati bisikkan namamu di hatiku, yang semakin nanti semakin membuatku menggelepar jika aku tak bertemu kamu…”
“Apakah aku mencintaimu?”
“Aku tak tau. Tapi kau cukup tau aku mencintaimu, lepas dari sebentuk rasa yang saat ini kau yakini hanya untukku atau apalah itu. Cukup aku mencintaimu. Dan semua akan baik-baik saja.”
saat aku dan kamu
bersatu menjadi kita
itulah "cinta"
(16.00)
dalam kubikelku
2.17.2011
Monolog Hati (Kisah darimu Malam itu)
Aku tamumu malam ini. Tamu tak seberapa istmewa yang akan menggeser posisinya menjadi segalanya dan satu-satunya malam ini juga. Aku akan mengubah atmosfir sekitarmu, mencuri peluang dari waktu yang ada untuk tetap bersama-samamu menjadikannya sebagai satu-satunya pilihan yang akan kau ambil, memberikan tendensi terkuat untuk membelokkan akal sehatmu pada beberapa saat setelahnya. Aku akan mencari dimana titik lemahmu dan menjadikannya satu-satunya fokus dari daya tarikku untuk melenakanmu dalam ladang cinta yang akan kita siangi bersama-sama tengah malam-malam ini. Aku tertarik padamu, kau juga akan tertarik padaku setelah ini, aku akan membuatnya begitu. Dan kita akan bermain peran bersama, aku dengan lakonku, kau dengan pilihan lakonmu.
Aku tertarik padamu. Kamu memiliki sesuatu yang kunilai patut untuk kuselami lebih dalam lagi, dan aku melihat kamu memiliki potensi untuk layak menjadi pasanganku, untuk sekedar berbagi rasa, cerita dan entahlah, malam ini. Dan malam ini kita disini, duduk bersama di bangku panjang teras samping rumahmu. Dengan langit malam sepi bintang dan sebuah purnama pucat disana, sebuah pemandangan yang nampaknya sengaja kau suguhkan untukku sebagai awalan pembangun atmosfir kedekatan kita yang akan kita awali malam ini. Menarik. Aku menikmati upayamu. Karena itu aku akan menengadah dan mengembangkan senyum terhangatku malam ini, untukmu, yang kubiaskan dengan sesekali menengadah dan mengayunkan kaki sesekali.
Apakah sekarang aku cukup memancarkan hangat di malammu kali ini? Lalu kemari dan mendekatlah padaku, kita masih terpatut di ujung-ujung bangku yang kita duduki. Ataukah aku harus berpura-pura kedinginan sambil menggosok-gosok sepanjang lengan atau sekedar meniup-niup pelan sepasang telapak tanganku?
***
Malam ini aku mengundangmu sebagai tamuku. Mungkin kencan malam ini tak begitu menarik awalnya, tapi aku akan memastikan mendapatkanmu malam ini. Aku akan membuatmu jatuh pada menit kesekian di perjamuan kita malam ini, lalu mendapatkan segala perhatianmu setelahnya, setidaknya untuk malam ini, dan diawal pagi esoknya, sebelum kamu pulang atau aku pergi meninggalkanmu. Aku tau, kamu dapat memerankan peranmu dengan baik, dan untuk itu aku akan memerankan peranku dengan baik pula untukmu. Setidaknya malam ini kita akan melepas topeng pura-pura kita dan bertelanjang polos tanpa naïf dan munafik.
Malam ini kita disini, duduk berpencar diujung-ujung bangku panjang di teras samping rumahku. Aku menyuguhkan sebuah display malam yang mengirimkan sebuah pesan untuk kau tangkap dengan naluriahmu, naluriah seorang perempuan sepertimu. Aku akan menciptakan kesan dingin dan kosong, untuk kemudian kita isi dengan kehangatan bersama tengah malam-malam ini. Setidaknya sampai segalanya menjadi jelas, akan kita mulai dengan cara yang bagaimana untuk menggeser peran kita satu sama lain malam ini. Menarik. Dan memang aku tertarik padamu. Lalu aku akan membuatmu semakin penasaran dengan awalanku yang setengah-setengah ini. Aku akan membuatmu menebak-nebak, dan aku akan menikmatinya.
Malam ini kita disini, duduk berpencar diujung-ujung bangku panjang di teras samping rumahku. Aku menyuguhkan sebuah display malam yang mengirimkan sebuah pesan untuk kau tangkap dengan naluriahmu, naluriah seorang perempuan sepertimu. Aku akan menciptakan kesan dingin dan kosong, untuk kemudian kita isi dengan kehangatan bersama tengah malam-malam ini. Setidaknya sampai segalanya menjadi jelas, akan kita mulai dengan cara yang bagaimana untuk menggeser peran kita satu sama lain malam ini. Menarik. Dan memang aku tertarik padamu. Lalu aku akan membuatmu semakin penasaran dengan awalanku yang setengah-setengah ini. Aku akan membuatmu menebak-nebak, dan aku akan menikmatinya.
Apakah aku kurang misterius untuk kau selami perlahan malam ini? Apakah aku masih perlu memancing rasa penasaranmu jauh lebih menggila lagi? Ayolah kita mulai saja perjamuan kita, karena semakin aku bermain, kamu juga semakin menggoda, aku semakin takluk dan kamu semakin membuat takjub.
“Mana yang menarik? Bulan pucat pasi atau beberapa bintang yang tersebar disana?”
“Aku menggilai bulan nampaknya, tampak tegar dimataku… tak peduli tanpa teman, tak berkelompok seperti bintang”
“Lalu sampai kapan kamu mau mencumbui mereka? Membiarkan tubuhmu digelayuti dingin. Kemarilah.”
***
Aku menurunkan kepalaku, menatap ke arahmu, tepat di sampingku. Lalu aku melihatmu yang sedang tersenyum hangat, dengan lengan kiri terbuka, menawarkan kehangatan yang semakin menjanjikan tenang untukku malam ini. Aku tau, kau sedang berusaha membangun atmosfir baru, setelah kehadiranku malam ini, dan aku menghargai upayamu sekali lagi. Karena itu aku datang dan masuk ke dalam hangat pelukanmu malam ini. Lalu aku akan menawarkan sebuah balasan atas hangat yang kau tularkan untukku.
“Kamu benar. Disini dingin.”
“Masuklah kalau begitu. Ada bilik yang nyaman di dalam sana.”
Kamu berdiri, mengulurkan tanganmu, menggamit jemariku, membimbingku memasuki bilik yang kamu janjikan. Kamu memerankan peranmu dengan sangat baik, rapih dan terselubung. Debaran dalam dadaku semakin membumbung, ada semacam rasa yang berontak untuk segera disudahi hasratnya, ada semacam getar yang mengelegar untuk diredam saat itu juga. Aku kacau, aku berantakan, tapi aku menuju ke arahmu.
***
“Kamu benar. Disini dingin.”
“Masuklah kalau begitu. Ada bilik yang nyaman di dalam sana.”
Aku berdiri mendahuluimu, menggamit jemarimu yang memang benar mendingin, membimbingmu masuk ke bilik yang telah aku janjikan, yang kuharap mampu membawa nyaman untuk mu, juga untuk ku setelahnya. Ada rasa yang entah apa di sini, di dekat dadaku, meletup-letup mengangguku, tapi aku sadar bahwa aku semakin menikmatinya. Ada semacam getar yang semakin menggelepar saat ku cekik dengan akal sehatku, yang semakin nanti akan semakin menjadi. Aku memilikimu malam ini. Aku patut atas dirimu saat ini.
“Bilikmu nyaman. Terimakasih,…sendirikah aku disini? Tak kah kamu mau menemani?”
***
“Bilikmu nyaman. Terimakasih,…sendirikah aku disini? Tak kah kamu mau menemani?”
“Aku disini…”
“Bisakah kita mulai hal yang bisa kita bagi hanya berdua saja malam ini?”
“…dan aku berharap lebih.”
“Maka aku akan menawarkan segala yang tanpa batas padamu malam ini..”
***
17 Dec 2010
Kamu pergi pagi-pagi, saat aku belum berbenah, saat aku belum lancarkan inderawiku tuk sadari keberadaanmu sebelum kau pergi. Secarik kertas kau tinggal di lemari es ku,
“Terimakasih atas perjamuan malammu”
Kamu tak pernah tau, aku mulai menggilaimu sejak malam tadi, sejak kau menikmati pucat purnama dan kedinginan. Sejak kita menuangkan rasa dalam satu kantong plastik. Kamu tak akan tau, aku sangat menginginkanmu karena aku sudah tertarik padamu sebelum aku mengawali perjamuan kita malam ini. Dan kamu pergi pagi-pagi tadi, hanya dengan sepenggal pesan yang tak kumengerti apa yang tersirat disana.
Pagi ini adalah akhir kisah kita bukan?
Istriku akan pulang siang nanti, aku akan berbenah, menjemputnya. Istriku.
***
Aku terbangun dengan segala dosa di pagi-pagi buta, disebelahmu. Aku sempat terlena dengan sensasi nyaman yang kau tawarkan, aku menikmati wajahmu semauku kali ini. Aku terjatuh di cintamu sejak malam tadi, sejak kau tawarkan hangat peluk nyamanmu untukku yang berpura-pura kedinginan malam tadi. Kamu tak pernah tau, aku benar-benar terjerembab dan susah berdiri di palung hatimu.
Aku ingat. Aku harus bergegas dan berbenah. Pagi ini suamiku pulang, aku akan di rumah dan memasak untuknya.
Aku ingat. Aku harus bergegas dan berbenah. Pagi ini suamiku pulang, aku akan di rumah dan memasak untuknya.
Kutinggalkan sebuah pesan untukmu,..
“Terimakasih atas perjamuan malammu”
… Apakah kamu tau? Aku mengisyaratkan sebuah rasa padamu, rasa yang mulai saat ini akan menghajarku dengan bertubi kangen.
***
“Perselingkuhan kita tak sehat”
***
“Perselingkuhan ini tak sehat”
160211
(berlanjut dalam kubikelku)
Langganan:
Postingan (Atom)




