8.11.2011

Depresi

aku melihatmu...

kacau.

aku melihatmu...

risau.

kukumu patah,

setelah kau gores di tembok

ukirkan sebuah nama..

menyerupai namaku.

Matamu merah saga,

marah...

setelah berhari-hari menatap pongah

pada gambar berbingkai

serupai gambar wajahku

Tanganmu berdarah...

meremas tajam sesuatu dalam genggammu...

oh,..

hatiku berdenyut gelisah disana...

"lepaskan hei,... dia meronta"






di sudutku..
merenungkan sesuatu..
11.08.11  

7.26.2011

*Belum Kurenungkan Judulnya*

Aaargghh!!...

Kata-katamu merajam dalam otakku!!

Jari – jemarimu tembus kelabu sisi penuhnya…

Dipenuhi namamu…lagi

Aaaargghhh!!...

Larik-larik bait puisimu aliri darahku…

Bersenandung lewat desir darah dan helah nafasku

Lamat-lamat…

Menyebar…

Hangat.

Hhh,..

Lelah juga menatap fotomu!

Bingkainya batasi jemariku tuk menyentuhmu lebih dekat.

Lalu,..

Kapan kau nikahi aku eh?



Room 12 (12/04/10)


7.05.2011

All About BC





it's all about you BC...
bakal ada yg begini ini di kubikel kerja saya...
post it- post it bernasib sial yang harus kita corupt untuk menyampaikan "something" yg kadang hanya efektif jika diverbalisasikan...

sebodo ah!
lebih asik begini!!!

:))






kalo yang ini mah saya pas lagi iseng...
dari pada nganggur, bukalah si saliyem a.k.a laptop jaman purba saya
dikit tempel sono-sini,
merangkai kata (bgitu doang juga)
jadi deh...
mayan ... si BC bisa bersemu-semu a la bbm tu

xixixi
:))





yang ini saya buat di suatu siang, dalam kamar kost, dengan duduk diatas kasur
dan (lagi) berbekal saliyem dan setumpukan kata-kata yang memenuhi dada,
dan lagi...saking nganggurnya pula...
jadilah ini...
ada salah kata tu... "it" mustinya jadi "it's"...gitu kata si BC
(okay ...I know... kamu editor handal, dear..)





Woooopss!!!
:-O

yang ini nampaknya agak-agak "HOT"
come on!
lihat ke art-nya...

ini rangkuman dari momment-momment yg kita lalui bersama...

hihiiiii

:">





this is the last ...
yang paling terakhir yang saya buat ya ini
nothin' special...
hanya mencari media untuk menyampaikan sesuatu yang kadang susah diverbalisasikan...



That's all!!!

benernya saya juga lagi bingung mo posting apa...
udah berapa lama juga gak posting...

:)

4.15.2011

Untuk Khaiyla – Abisena (14/4/11)

(Kelak aku akan mengajakmu naik kereta kelinci, Khaila,..Abisena)


Kelak aku akan memberimu nama Khaiyla. Mengapa? Karena entah kenapa aku jatuh cinta pada nama itu sebelum kau ada. Lalu aku berjanji dalam hatiku, dengan bulat tekatku, akan kuhentikan cumbuanku dengan benda putih panjang ini, untuk menyiapkan tempat ternyaman agar bisa kau tinggali selama bersemayam dalam rahimku. Lalu aku akan mengubah pola hidupku. Aku akan meminum cairam putih lain yang penuh kalsium, yang sebelumnya kukutuk dengan ratus bahkan ribuan kata sebelumnya. Beberapa gelas susu untuk pertumbuhanmu. Aku akan menyiapkan asupan gizi terbaik melalui diriku, lewat pencernaanku yang nanti akan kau hisap melalui plasentamu yang tertanam juga dalam ragaku.
Nanti aku akan berjanji untuk selalu bersabar melewati 270 hari selama aku bersatu denganmu, demi menjaga agar hormone kortisol-ku untuk tak meracuni perkembanganmu. Karena sungguh, aku benar-benar mencintaimu. Menginginkanmu tumbuh menjadi kehidupan baru yang akan kubahagiakan nanti. Aku pasti akan menjadi sangat excited dan bahagia di setiap harinya ketika menunggu kedatanganmu. Lalu di bulan ketujuh, aku akan mulai addict untuk mendatangi baby shop, mempersiapkan atributmu, baju-baju mungil itu, yang kuning, yang hijau mint, atau putih, entah kenapa aku tak begitu menyukai serba pink untukmu sayang, aku tak ingin kau terlihat cengeng, Khaiylaku. Bukan masalah sebenarnya, karena kamu akan tetap cantik dan lucu tanpa warna pink sekalipun dalam hidupmu. Itu terlalu cengeng kukira. Lalu aku dan Papamu pasti akan berlama-lama memilih baby troller untukmu sayang. Aku akan memilih satu atau dua yang paling kuat, paling nyaman dan paling cantik untuk kau tiduri saat kami mengajakmu berkeliling menjemur kulit cantikmu di bawah hangat matahari pagi, agar pertumbuhanmu makin baik, agar kamu menjadi Khaiyla kami yang cantik dan sehat.
Kelak aku akan rela menebus sakit untuk bisa mendengar tangisan pertamamu ketika tiba masaku melahirkanmu, tangis pertama yang kunantikan, saat kau berjuang melakukan mekanisme pernapasan pertamamu, Khaiyla. Lalu aku akan membiarkanmu melakukan usaha pertamamu memperjuangkan kehidupan di masa inisiasimu. Mengamati keajaiban demi keajaiban saat pertama kamu memulai kehidupanmu, bersamaku. Tak bisa kubayangkan bagaimana bahagianya memeluk tubuh mungilmu untuk pertama kalinya. Mungkin aku akan menangis haru, karenamu, karenaku, dan segala keajaiban yang telah aku lewati bersamamu. Tentu saja juga berkat Papamu yang mau atau harus kupaksa untuk menemaniku sambil menggenggam tanganku selama proses persalinanku untuk membuatmu berada nanti.

****

Kelak aku akan memberimu sebuah nama, Abisena. Kenapa? Entahlah, aku juga tak tau kenapa aku begitu menginginkanmu untuk memilikinya. Nama yang memiliki arti yang tak pernah bisa persis ku definisikan sebelumnya. Abisenaku. Kelak kamu akan menjadi bocah yang lucu, kamu akan mewarisi sedikit dari Papamu, dan sedikit pula dariku. Karena kamu adalah Abisena, anugerah cinta antara aku dan Papamu. Aku membayangkan kamu memiliki mata yang serupa dengan milik Papamu, yang saat menatapnya aku akan melihat banyak harapan dan kebahagiaan di dalam sana.
Lalu aku akan rela menghentikan kebiasaanku yang lain, yang mungkin saja bisa merusak tempat ternyamanmu saat kamu menyatu dengan ragaku. Aku akan meninggalkan bercangkir-cangkir cairan hitam yang membuatku tergila-gila sebelumnya, sumber inspirasiku selain Papamu. Aku berjanji dalam hatiku, aku akan menggantinya dengan asupan vitamin dan gizi yang cukup untukmu. Aku akan rela memamah dan menelan berbagai sayuran untuk memberimu asupan terbaik melalui satu-satunya saranaku berbagi denganmu, plasentaku. Aku akan berolah raga, aku akan ikut pilates atau yoga untuk perkembanganmu, demi mendapatkan kesehatan untukmu kelak.
Aku memimpikan kamu ada diantara aku dan Papamu, tergelak diantara tawa bahagia kami. Lalu kamu akan menjadi jagoan kami, bukan kah lelaki identik dengan jagoan, Abisena? Kelak aku akan memilihkan metode terbaik demi nyaman menanti kelahiranmu, Abisena. Ah tidak! Apapun akan menjadi membanggakan asal aku bisa melahirkanmu dengan sempurna, asal itu tak menyakitimu dan tak mengurangi keajaiban Tuhan atas anugerahNya melaluimu.
Lalu Papamu akan menggerutu karena harus berlama-lama menungguku memilih seragam serba biru untukmu. Topi hangat, bantal mungil, feeding set, dan sepatu hangat, semuanya akan berwarna biru, biru yang tenang dan damai. Dan aku berjanji akan bersorak paling kencang merayakannya jika suatu saat nanti adalah kata “Mama” yang pertama kali kau sebut. Atas alasan apapun aku tak ingin kalah dengan Papamu untuk menyita kebahagiaan darimu, Abisena.
****

14.04.11

Aku sedang duduk di emperan jalan. Di sebuah café tenda emperan jalan, duduk sendirian di sebuah meja kecil dengan 4 kursi plastik tanpa sandaran. Secangkir cinnamon coffee masih mengepulkan asap panas, sebatang rokok terselip diantara sudut bibirku, mencoba mencampakkan dingin yang menggelayuti sepasang paha telanjang, mengamati sepasang suami-istri dan seorang batita lelaki yang sedang mengaduk-aduk makanan mamanya.
“Entah aku akan memiliki yang mana, tapi aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk salah satu dari kalian,…Khaiyla, … Abisena. Suatu saat pun dua benda ini akan enyah diantara jemariku dan hidupku, demi salah satu diantara kalian, aku akan mengganti hidupku dengan satu yang lebih baru, bersama entah nanti siapapun yang akan menjadi Papamu, menemaniku membahagiakanmu, Nak.”

3.09.2011

"KONVENSIONAL"

Aku menyayangkan sesamaku. Sesamaku yang kurang mampu menghargai dirinya dengan cara yang paling beradap menurut segala pergeseran makna era ini. Kata orang manusia jaman sekarang mem-binatang. Kataku manusia era ini hanya sedang asik-asiknya menggunakan dorongan hewani-nya untuk merealisasikan segala drive yang bersarang dalam diri mereka. Sebenarnya bukan lantaran sekarang jaman bebas, maka semua bisa senang-senang, suka-suka, semau gue, seenak perut gue. Sebenarnya jika mau dinalar –dengan akal yang masih fungsional dengan norma yang semakin banyak pengkondisian dan penyesuaian dengan pergeseran jaman- yang semau gue, suka-suka gue dan seenak gue tadi masih tetap memiliki batasannya. 

Come on!
 
Kita hidup dalam ruang tak terbatas yang dinamai DUNIA, yang berarti KITA tidak sedang berdiri sendiri memiliki ruangan ini. Bahkan pada wacana ini “KITA” adalah subjek jamak yang berarti beberapa. Lalu bagaimana beberapa sesama saya di luar sana dengan pongah, petentang-petenteng meng”aku-aku”kan dirinya sebagai individu yang berdiri sendiri lantas bisa bertingkah semaunya dengan men-subjek-kan orang lain sebagai figuran tak penting dalam kehidupan mereka.
 
Sudah bijakkah?
 
Bukan berarti disini wacana yang saya angkat adalah sebuah pembenaran dari tataran nilai-nilai sosial kemanusiaan yang mendewakan unggah-ungguh, kebersamaan dan empati, bahkan bukan sekedar itu. Sebenarnya melalui ruang sempit ini saya ingin mengajak sesama saya untuk kembali menjadi gelas setengah penuh (karena mungkin tidak semua kalimat saya ada benarnya dan ada sesuainya) untuk menerima sedikit perenungan kecil tentang hidup.
 
Belakangan ini saya sering mengandai-andai bila di bola besar yang kita pijak dan dinamai bumi ini sedang diberlakukan satu aturan konvensional yang serempak dan universal.
 
Bagaimana jika seisi bumi menyepakati untuk tidak boleh mencintai sesama jenis?
 
Bagaiman jika seisi bumi ini menyetujui aturan untuk tidak mengijinkan sebuah life style terkini yang kita kenal dengan samen leven?
 
Bagaimana jika seisi bumi ini mengutuk suatu cairan senyawa melenakan yang disebut alcohol?
Bagaimana jika seisi bumi ini melarang adanya perceraian?
 
Apakah seperti ini kehidupan yang dimaui seisi bumi?
 
TIDAK! 
Saya berani jamin!
 
Hei! Bukankah hidup ini adalah kenyataan yang paling berwarna ragam dan ceritanya? Apa kalian pikir akan ada objek yang bisa dipelajari oleh para ilmuwan, cendekiawan dan orang-orang yang 70% dari otaknya itu berisi semacam kerutan dan area abu-abu, jika ternyata dunia ini isinya adem-adem aja?!
 
Apa kalian pikir hidup ini akan mencapai homeostatis kekal jika semuanya baik-baik saja?
Apa ada yang lupa kalau di dalam rumus hidup itu ada suatu istilah yang berbunyi “DI-NA-MI-KA”??
 
Itulah kenapa pada akhirnya manusia akan saling membutuhkan satu sama lain. Yang ingin selingkuh akan membutuhkan pasangan selingkuh, yang ingin menjalin cinta juga membutuhkan pasangan bercinta, yang ingin cari gara-gara juga pasti butuh musuh. Ini yang kita namai dikotomi ‘kan?
 
Segalanya berpasangan, dan segalanya berlawanan.
 
Siang-Malam ; Baik-Buruk; Lelaki-Perempuan; Kalah-Menang… 
Apakah menyenangkan hidup yang hanya lempeng-lempeng saja? Apakah ada yang kita curi, ambil, petik sebagai nilai untuk dipelajari jika hidup ini isinya seragam?
 
Dan syukurlah kita ini hidup di DUNIA NYATA yang dimana di dalamnya ada nano-nano cerita, ada aneka ragam manusia dan jenis perwatakannya. Kita mungkin tidak bisa menyeragamkan nilai, kita mungkin tidak bisa menyelaraskan langkah tujuan, tapi setidaknya kita ini masih sangat-amat mampu menemukan cara paling manusiawi untuk menjadi manusia kan?
 
Yang mau samen leven ya sudah, sana jalani hidupmu, asal jangan ganggu orang lain, asal jangan rusak generasi lain, simpan segala alasan “terkuat” apapun yang kalian punya untuk membenarkan pilihan kalian, tapi jangan sebarkan pada publik. Saya tidak membenarkan life style ini, tapi saya juga tidak pernah menyalahkan ini, toh semua keputusan sudah didasari dengan niat dan maksud kan? Lalu apa masalahnya jika mereka saja (si pemeran utama) sudah cukup siap dan tangguh untuk menghadapi segala macam resikonya? Nggak mungkin juga ‘kan orang bebrbuat tanpa terlintas kemungkinan apapun yang akan terjadi setelahnya? Pasti ada, pasti terlinta, walau hanya sementara atau benar-benar sepintas lalu. Yang saya sayangkan adalah tingkah “SOK PAMER” orang-orang macam ini, apa baiknya sih pamer-pamer hal yang kita tau banyak tidak disetujui orang lain? Ya sudah to, main sembunyi-sembunyian, tutup rapih dan bertingkahlah sopan. Di situ saja point nya buat saya.
 
Yang saya kecewakan dari berbagai persepsi public adalah bahwa “akhlak” manusia yang luar biasa bagusnya ini hanya diukur seputar dengan urusan selangkangan dan alcohol.
 
Sayang sekali kan?
 
Apakah tidak ada sesama saya di luar sana yang berakhlak ‘kacau’ walaupun dia tidak terlibat dengan 2 hal yang menjadi parameter tadi? Apa kabar dengan beberapa pelajar manis-manis kucing yang tumbuh dan dewasa hanya untuk menjadi seorang koruptor atau sekedar perampas hak sesamanya walaupun dirinya terbebas dari godaan selangkangan dan alcohol? Apakah ini cukup beradab?
 
Apakah bijak juga bila sepasang penganut life style samen leven dan seorang pecinta alcohol akan ditolak niat baiknya untuk sekedar membagi kebahagiaannya dengan sesamanya yang membutuhkan? Ada jaminan darimana bahwa apapun yang mereka berikan adalah sama haramnya dengan apa yang mereka geluti?
 
Apakah kamu akan membenci ibumu yang mantan alcohol addict, lalu melupakan jasa besarnya dalam mengandung, melahirkan, membesarkan dan mengajarimu mengeja A-B-C ?!
 
Nah!
 
Bisakah mulai sekarang kita memfokuskan pada pembenahan diri masing-masing terlebih dahulu sebelum mengoreksi dan menginterupsi orang  lain? Setidaknya jangan membuat diri sendiri kecewa dan malu dikemudian hari karena idealis sendiri.
 
Percayalah bahwa semua makhluk di dunia ini memiliki banyak kesempatan dan pilihannya masing-masing untuk menjalani hidup mereka?
 
Bukan berarti kita tidak berhak untuk berempati, bersimpati dan mengingatkan. Tapi cobalah untuk menjadi manusia yang paling manusiawi, setidaknya untuk dirimu sendiri.