Aku menari... mengikuti irama yang diciptakan Sang Pemilik hidup untukku... Membuat ritme-nya terlihat halus, indah dan gemulai... Inilah aku.
3.22.2012
Apapun Tentang(mu)
Hal terindah yang kusadari telah di anugerahkan
Sang Pemilik Hidup padaku adalah dirimu.
Dimana saat kubuka mataku.
Kulancarkan inderaku tuk sadari,
bahwa hari ini pun kau
tetap ada untuk menemaniku.
Aku menemukanmu setelah dia pergi.
Bukan…
Sejujurnya dirimu bukanlah sosok pengganti yang mengisi rongga kosong karena
kepergiannya yang terkesan diam-diam.
Aku benar-benar menemukanmu,
sebagai sosok lebih baik yang akan menemani gulir waktuku
3.06.2012
Tuhan Diantara Kita
"Apa isi doamu? Mengapa saat kau berdoa terasa sangat lama dan sangat banyak yg kau bisikkan pada Tuhan?"
"Tak banyak, hanya kita dan keluarga kita, tapi dalam segala keselamatan, kemakmuran, perlindungan dan kebahagiaan. Itu saja"
"Doa untuk keluargaku?"
"Ya. Tentu saja, karena aku yakin kamu tak akan pernah bahagia jika mereka tak bersamamu. Yang kuinginkan kamu bahagia, mereka bahagia dan kita bahagia bersama mereka."
"Apakah hidup ini adil untukmu?"
"Tentu saja. Hidup mengijinkanmu bahagia bertemu dg mu, dan penyeimbangnya adalah pembatas tegas yg lebar menganga diantara kita."
"Untuk apa?"
"Untuk kita mempelajari seberapa dalam cinta yg berdiam di dalam diri kita masing-masing"
"Pembatas ini semacam jurang curam atau tembok tebal."
"Tentu saja. Karena yang kita rasakan jugalah sebuah cinta yg kuat dan kasih yang mendekati kekal. Adil bukan?"
"Ah, aku tak tau darimana sudutmu berangkat untuk memikirkan apa yg ada diantara kita."
"Sudut yang tak pernah jauh dari tempamu beranjak tentu saja. Setidaknya ada kesamaan antara kita."
"Jadi apa satu yang sama antara aku dan kamu?"
"Sesuatu yang menuntun kita pada cinta. Aku tak tau tentu saja. Juga tak yakin kau tau. Kita masih saling mencari bukan?"
"Mencari? Apa?"
"Entahlah, kurasa kita seperti sedang mencari jalan pertemuan untuk cinta mengantarkan kita pada kebahagiaan kekal"
"Aku lelah, bukan untuk mencintaimu, bukan untuk berjuang membahagiakan cinta dalam diriku dan dirimu, hanya saja aku sedang lelah dengan entah apa yg menghalang-halangi kita."
"Jangan kau hiraukan. Ikuti saja maunya, jalani saja tuntunanya, mintalah pada Tuhan kehabagiaan yg kau yakini. Boleh saja cara kita berbeda, tapi bukankah Tuhan kita sama?"
"Tak banyak, hanya kita dan keluarga kita, tapi dalam segala keselamatan, kemakmuran, perlindungan dan kebahagiaan. Itu saja"
"Doa untuk keluargaku?"
"Ya. Tentu saja, karena aku yakin kamu tak akan pernah bahagia jika mereka tak bersamamu. Yang kuinginkan kamu bahagia, mereka bahagia dan kita bahagia bersama mereka."
"Apakah hidup ini adil untukmu?"
"Tentu saja. Hidup mengijinkanmu bahagia bertemu dg mu, dan penyeimbangnya adalah pembatas tegas yg lebar menganga diantara kita."
"Untuk apa?"
"Untuk kita mempelajari seberapa dalam cinta yg berdiam di dalam diri kita masing-masing"
"Pembatas ini semacam jurang curam atau tembok tebal."
"Tentu saja. Karena yang kita rasakan jugalah sebuah cinta yg kuat dan kasih yang mendekati kekal. Adil bukan?"
"Ah, aku tak tau darimana sudutmu berangkat untuk memikirkan apa yg ada diantara kita."
"Sudut yang tak pernah jauh dari tempamu beranjak tentu saja. Setidaknya ada kesamaan antara kita."
"Jadi apa satu yang sama antara aku dan kamu?"
"Sesuatu yang menuntun kita pada cinta. Aku tak tau tentu saja. Juga tak yakin kau tau. Kita masih saling mencari bukan?"
"Mencari? Apa?"
"Entahlah, kurasa kita seperti sedang mencari jalan pertemuan untuk cinta mengantarkan kita pada kebahagiaan kekal"
"Aku lelah, bukan untuk mencintaimu, bukan untuk berjuang membahagiakan cinta dalam diriku dan dirimu, hanya saja aku sedang lelah dengan entah apa yg menghalang-halangi kita."
"Jangan kau hiraukan. Ikuti saja maunya, jalani saja tuntunanya, mintalah pada Tuhan kehabagiaan yg kau yakini. Boleh saja cara kita berbeda, tapi bukankah Tuhan kita sama?"
Malam-malam ketika hasrat menggeliat
050312
3.03.2012
In Time
Lihatlah seberapa besar pengaruh waktu pada kita.
Aku terlahir, lewat dari masa 9 bulan dalam kandungan dan aku divonis terlahirkan dalam waktu normal. Waktu.
Orang tua kita melakukan proses konsepsi pembuahan sel telur dalam waktu 1 x 24 jam. Taraaaah, kita resmi tercantum dalam list akan hadir dalam rahimnya. Waktu.
Aku dan kamu, bertemu pada pukul 13 lebih, bertemu tatap, bersinggungan dan bercakap-cakap. Waktu ada ketika kita bertemu.
Aku tidak mendapatkan menstruasiku pada jadwal dan waktu yang biasanya, selama lebih dari 6 minggu, maka orang yang mengetahuinya akan mengatakan "Kamu telat, apa kamu hamil?". Waktu patokannya.
Aku dan kamu bersama kurang lebih 378 hari, aku mengenalmu, kamu mengenalku, aku mendekatimu, kamu mendekatiku dan kita saling berdekatan, berbagi lalu bertengkar. Ah kita sudah lewat dari setahun... Waktu lagi.
Perlombaan sprint menuntut kita untuk berlari dalam ukuran kecepatan kilo per menit...Kalah-menang, ada di waktu.
Kamu tau sayang?
kadang aku ingin membunuh tik-tok jam ketika aku sedang risau menantimu
Kadang aku ingin mencabik-cabik jam, mematahkan jarum-jarumnya dan memusnakan waktu ketika aku bersedih menunggumu datang..
datang setelah pertengkaran terjadi antara kita
datang setelah pergi yang entah sampai kapan.
Sungguh tidak menyenangkan menunggumu, memasang pendengaran dengan tajam, mencoba memilah segala kehadiran suara di luar sana sambil berharap-harap cemas soal siapa yang lebih dulu, kedatanganmu, atau jarum jam yang menukik dan menghunus harapan dengan kejam.
Terlalu banyak ketakutan di dalam sini,
Soal kita yang saling mencintai disamping perbedaan bagaimana kita memanggil Tuhan
Soal kita yang saling memupuk harapan masa depan disamping perbedaan mengenai bagaimana kita memuja Tuhan
Tapi mencintaimu bukanlah ketakutan.
Sungguh!
Yang kutakutkan adalah kehilangan cinta dan dirimu.
Karena bagiku mencintaimu adalah kebahagiaan hakiki. Kebahagiaan yang akan teramat menyakitkan bila itu harus terbetot begitu saja dan meninggalkan lubang besar.
Waktu memberi kita banyak kesempatan dari Tuhan.
Tuhan mengutus waktu untuk memberi kita kesempatan saling mengenal.
Lihat, betapa waktu pula yang akan melukai kita suatu saat nanti.
Takut sangat banyak di dalam sini.
Tolong.
030312. 11.11
2.28.2012
Since We Meet
"I just can't say what I have to say"
Mencintai kamu bukan pilihan, tapi anugerah.
Mengenal kamu bukan suatu kebetulan, tapi tuntunan takdir.
Menyayangi kamu bukan takdir, tapi keharusan.
Mempertahankan kamu bukan keharusan, tapi tujuan.
Bahagia bersamamu adalah hal yang paling utama untuk aku perjuangkan dengan segala pengorbanan.
Ini dari sisiku, sudut pandang tempat dimana aku berdiri.
Aku dikirim Tuhan melalui waktu dan putaran peristiwa untuk saling bersinggungan denganmu, saling bertemu, saling melihat dan pada akhirnya kita saling tertarik. Tidakkah bisa kau lihat ini adalah proses yang sangat luar bisa?
Apakah kamu bisa dengan mudah melepaskan keadilan untuk dirimu sendiri?
Keadilan soal kebahagiaan yang membuat dirimu menemukan sebuah keberuntungan dari kebaikan hidup.
Jika kamu bisa, maka aku tak akan menemukan pilihan lain untuk bisa mengejarnya bersamamu, karena untuk berlari mengejarnya,tak hanya cukup aku mengejarnya dengan kedua kaki dan segala yang ada dalam diriku, aku sangat membutuhkan kamu.
Tapi sayang,...sungguh aku tidak bisa memaksamu, karena cinta itu bukan hal yang bisa kupaksakan tertancap dalam di hatimu. Aku hanya ingin berjuang untuk kebahagianku, yaitu mencintai kamu dan membagi cinta bersamamu.
Itu saja.
Karna sungguh, kau tak perna bisa mencintai orang dengan cara yang sama.
Mencintai kamu bukan pilihan, tapi anugerah.
Mengenal kamu bukan suatu kebetulan, tapi tuntunan takdir.
Menyayangi kamu bukan takdir, tapi keharusan.
Mempertahankan kamu bukan keharusan, tapi tujuan.
Bahagia bersamamu adalah hal yang paling utama untuk aku perjuangkan dengan segala pengorbanan.
Ini dari sisiku, sudut pandang tempat dimana aku berdiri.
Aku dikirim Tuhan melalui waktu dan putaran peristiwa untuk saling bersinggungan denganmu, saling bertemu, saling melihat dan pada akhirnya kita saling tertarik. Tidakkah bisa kau lihat ini adalah proses yang sangat luar bisa?
Pertemuan kita adalah salah satu dari keajaiban, Dear..
Apakah kamu bisa dengan mudah melepaskan keadilan untuk dirimu sendiri?
Keadilan soal kebahagiaan yang membuat dirimu menemukan sebuah keberuntungan dari kebaikan hidup.
Jika kamu bisa, maka aku tak akan menemukan pilihan lain untuk bisa mengejarnya bersamamu, karena untuk berlari mengejarnya,tak hanya cukup aku mengejarnya dengan kedua kaki dan segala yang ada dalam diriku, aku sangat membutuhkan kamu.
Tapi sayang,...sungguh aku tidak bisa memaksamu, karena cinta itu bukan hal yang bisa kupaksakan tertancap dalam di hatimu. Aku hanya ingin berjuang untuk kebahagianku, yaitu mencintai kamu dan membagi cinta bersamamu.
Itu saja.
Karna sungguh, kau tak perna bisa mencintai orang dengan cara yang sama.
Catatan Pagi Ini
280212: 10.00
2.27.2012
When Everything Become Imposible
I won't , I scared, but I'm in
Mendengar kata-kata pisah itu seperti terpeleset dari pinggiran tebing, takut, nggak mau tapi lagi ngambang antara pijakan teratas dan hempasan terbawah, tinggal nunggu sakitnya, atau paling parah ya matinya.
Rasanya seperti nggak percaya(ya jelas aja nggak percaya, kan tadinya terpeleset, bukannya terjun dengan sengaja), nggak percaya kalau sebentar lagi akan terhempas dan kesakitan, sakit yang nggak ada jaminan persisnya bakalan sesakit apa dan tersembuhkan atau tidak. Nggak percaya aja kalau yang kemarin-kemarin diyakini segalanya akan selalu baik-baik saja dan menyenangkan tiba-tiba terancam berakhir. Atau bisa jadi nggak pernah mempersiapakan jika tiba-tiba kita ada tanpa belahan jiwa kita (Belahan jiwa tentunya bisa siapa saja yang sedang kita ajak untuk berbagi cinta, kebahagiaan dan segalanya).
Well..
Sedikit banyaknya juga aku pernah merasakan yang macem itu, tinggal dilihat aja akhirnya..
The Past Make Me Better or Bitter
Siapa sih yang punya jaminan segalanya akan berjalan sesuai rencana? Kalopun begitu melulu, Tuhan gak perlu melengkapi kita dengan kepekaan, kesabaran dan kewaspadaan. Tinggal dilihat, apakah kita bisa menerima kegagalan dalam membuat suatu kebahagiaan untuk aku dan dia, kamu dan dia atau siapa dengan siapa. Yang jelas jika aku harus kehilangan dan berpisah dengan kamu, maka aku kehilangan satu atau bisa jadi beberapa peluang untuk membuat kebahagiaanku sendiri, karena bagiku, peluang bahagia adalah saat aku merasa nyaman bersama dengan seseorang, dan beruntungnya itu adalah kamu.
Mengapa bisa kubilang beruntung?
Karena aku bisa membuat kebahagiaan-kebahagiaan dengan berbagai takaran sejak aku mengenal kamu, dekat dengan kamu, dan menyatu dengan kamu. Walalupun itu hanya sebentar, walaupun itu tak ada jaminan akan berlaku selamanya, walaupun itu sudah berlalu.
Catatan Tentang Kamu
Hari di Awal Minggu, hampir tengah hari.
2.25.2012
Daily Note (Just a Little Story)
Please,..grow old with me...
Pernah tau cycle of love story?
Ketemu --> kenal --> deket --> saling tertarik --> Jatuh Cinta --> Sakit Hati (atau Saling Menerima) --> Bertengkar (atau Saling Memahami) --> Putus (atau Tumbuh Menua Bersama)
Percabangan pertama terjadi ketika dua belah pihak saling jatuh cinta, kamu dan aku bisa memilih untuk berujung pada yang mana.
Kalau aku,
Aku ingin tumbuh dan menua bersamamu, bersamamu yang mencintai aku yang lebih dulu mencintaimu.
Jangan bilang tidak atau tak mungkin. Jangan.
Itu semacam ketidak adilan untuk harapan dan kebahagiaan dalam diri bagiku.
Katakan saja, "Kita akan mencoba"
Dan lakukan seperti apa yang kau katakan,
Coba dan upayakan kebahagiaan kita.
Catatan Kecil Hari Ini
250212 : 13.00
2.07.2012
Malam Perjamuan Terakhir
“Katakan kamu mencintaiku.”
“Hmm, aku mencintaimu tentu saja sayang.”
“Katakan dengan sungguh-sungguh.”
Kamu beranjak dari tidurmu. Bangkit dalam duduk, menatapku, terdiam lama, sangat lama bagiku yang sedang dihajar ragu. Mata yang sama sedang menatapku. Tangan yang sama sedang menangkup jemariku didalamnya. Ragamu sedang utuh menjadi milikku saat ini.
“Aku yang sedang ada dihadapanmu ini, teramat mencintai kamu.”
Sigh!
Ini yang tak sama. Perpaduan dari sentuhan yang berbeda, tatapan yang berbeda dan ketulusan yang membaur dalam kata dan suara yang juga tak sama. Apa yang kau katakana dengan kesungguhan yang kau upayakan semurni mungkin tadi terdengar seperti ,”Pergi atau matilah saja sana” bagiku. Sangat mengiris, sangat sakit.
Bisakah ku pesan sebuah benturan keras yang minimal membuatku lupa bagaimana itu sakit dan bagaimana itu bersedih? Bisakah otakku dikacaukan secara parsial yang membuatnya lupa seperti apa itu kecewa dan bagaimana itu kehilangan? Karena aku hanya ingin mengingat kamu sebagai hal terindah yang pernah kudiami sebagai dunia yang artinya adalah segalanya. Sungguh!
49 Minggu bersamamu. Tak pernah kurang sedikitpun kebahagiaan di dalam sini. Tak ada yang kurang
sedikitpun didalam sini, segala ruang terisi penuh dengan kebahagiaan darimu. Kamu yang datang di saat aku selesai merapikan ruang tamu di hatiku, tepat setelah aku usai meriasnya seindah mungkin untuk disinggahi. Kita berlama-lama membagi segalanya disana, hingga waktu yang menentukan segalanya telah tepat untuk menjamumu di ruang makan, dan di dalam bilikku. Bilik yang hanya akan berisi aku dan kamu.
Rasanya seperti harus mencabut satu-satu sayap yang kupunya untuk bisa terbang tinggi dan menikmati awan kembali. Mencabut satu-satu dengan tanganku sendiri. Rasanya seperti harus mencabuti tulang sendiri, memaksanya lepas dari raga ini, hingga tinggal daging terpuruk. Rasanya menyakitkan. Aku tak akan membaginya bersamamu tentu saja. Bisa jadi kamu sedang menikam perihmu sendiri, dan memakai topeng pura-puramu. Bisa jadi kamu memang beranjak sembuh dari sakit pengharapan. Bisa juga kamu sedang mencekik cinta pelan-pelan dalam hatimu. Bisa saja.
“Peluk aku..”
Diam pecah dalam parauku, parau yang kemudian dengan sangat susah kutenggelamkan kembali jauh kebawah kuasa diri. Kamu menatapku, dan aku kehilangan kamusku dalam membaca isyaratmu. Kita berpelukan. Kucoba mengingat-ingat kembali bagaimana rasa pelukanmu yang terakhir. Tak sama. Tetap tak sama. Sekali lagi tak sama. Tapi aku tak ingin melepasnya. Aku tak ingin kehilangan pelukanmu walau rasanya tak lagi sama. Walau itu tak lagi membuatku merasa aman, damai dan memiliki segalanya. Biar kuberi tau, pelukanmu saat ini membuatku merasa ditusuki disekujur tubuh, sakit sekali, membuatku ingin menangis, sakit sekali. Tapi sungguh aku tak ingin melepasnya, tetaplah begini, setidaknya ini adalah dirimu.
Dulu aku akan mendapatkan sebuah kecupan yang masih kuingat persis bagaimana lembutnya, bagaimana hangat yang digetarkannya ke sekujur tubuhku. Bagaimana sebuah kecupan membuatku merasa sangat lengkap dan sempurna. Dulu aku selalu mendapatkanya setiap kali aku berada dalam dekapanmu. Dan aku sedang hidup di masa sekarang. Aku sedang bernafas dan susah payah menjalani peran di masa sekarang. Masih bersama kamu. Kamu yang sekarang.
“Apa aku patut dicintai, Yo?” masih kubenamkan seluruh wajahku didalam pelukanmu, mencium dada bidangmu, yang dulu selalu bisa menyampaikan hangat dan perlindungan padaku.
“Uhuumm. Kenapa bertanya begitu?”
“Nothing. I just… ah, forget it. I miss you.”
“I’m here baby. I’m hear my dear.”
Hening lagi. Pelukanmu semakin ragu. Semakin longgar dan semakin rela melepasku.
Beritahu aku, apa yang bisa aku lakukan untu memulangkanmu? Atau apa yang kau ingin kulakukan untuk aku bisa menemui dirimu lagi? Beritahu aku apa yang bisa kuberi untuk membuat kita mendapatkan hal yang sama yang pernah kita dapatkan sebelumnya.
Kamu tahu bagaimana proses kerja sebuah candu? Mereka memberikan sebuah rasa istimewa yang memabukkan, membuatmu bahagia dan melayang. Kamu tahu butuh berapa lama menjadikan candu sebagai sesuatu yang membuat ketergantungan? Mereka membutuhkan waktu yang tak cukup lama bila ada saling kecocokan. Mereka masuk dan merasuk dalam nadi, menyatu dalam darah, menyebar keseluruh tubuh. Kamu tau bagaimana sakitnya disiksa candu dan kehilangan? Sama ketika kebahagiaan dan sesuatu yang istimewa yang sebelumnya telah merasuk dalam nadi, darah dan sekujur tubuhmu disedot dengan cepat dan kamu dibiarkan terguncang karena kehilangan. Tak ada yang peduli. Tak ada yang bisa menolong. Persis. Aku kecanduan kamu.
Aku keluar dari pelukanmu. Menjauhkan tubuh beberapa inci. Ingin mengamati apa lagi yang berbeda darimu. Yah, lengkap. Dirimu menjadi orang asing kini. Tak apa, aku tetap perempuan yang sama, yang tetap kecanduan padamu. Kudekatkan kembali tubuhku. Polos. Kita lihat, sejauh apa dirimu berganti wujud.
Tak sama. Kecupanmu ragu. Tak sama. Ciumanmu gamang. Tak sama. Sentuhanmu bimbang. Segalanya tak ada yang sama hingga akhir perjamuan kita.
Katakan padaku sekarang, cara apa yang bisa membuatku sembuh dari kecanduanku?
Karena sungguh sangat menyiksa saat aku bisa memilikimu tanpa aku menemukan dirimu bahagia bersamaku kembali. Tak kah kamu memahami bahwa kita harus sama-sama bahagia untuk bisa dikatakan sebagai pasangan yang saling mencintai? Ataukah cinta sudah berhasil meregang nyawa dalam cekikan dihatimu? Kenapa tak kau cekik dengan cepat pula cinta di hatiku? Agar setidaknya mereka bisa bersatu dan bahagia di tempat yang lain.
“Sudah terlalu malam sayang. Aku harus pulang.”
“When I will see you again?”
Kamu tersenyum. Setidaknya ini yang sama. Ini yang akan mengantarku untuk selalu mengingatmu yang amat mencintaiku. Kamu yang terlalu menjagaku dan takut kehilangan diriku. Setidaknya ini yang akan menjadi hal terakhir yang kekal untuk menyimpan segalanya tentang kamu.
“Tomorrow my dear.”
***
Kukemasi segalanya malam ini. Segala rasa yang hanya kujaga untuk kuberikan padamu, segenap sakit yang kutelan dan kudekap saat tak lagi bisa memiliki kamu, seluruh waktu yang terlewat dan bergulir dengan begitu cepat selama aku bersama kamu. Segala yang harus disudahi dan dibawa pergi.
Malam ini aku berkemas. Pergi seperti yang kau mau untuk aku dan dirimu. Selamat tinggal cinta, setidaknya aku adalah satu yang pernah mengajarimu sesuatu, semoga. Jangan bertanya soal cinta yang kuat dan pengorbanan yang sungguh, kamupun tau aku ahlinya. Jangan bertanya soal berapa lama aku bisa mengobati dan merelakan ini semua, kamupun tau, aku manusia paling bodoh untuk yang satu ini.
“Hmm, aku mencintaimu tentu saja sayang.”
“Katakan dengan sungguh-sungguh.”
Kamu beranjak dari tidurmu. Bangkit dalam duduk, menatapku, terdiam lama, sangat lama bagiku yang sedang dihajar ragu. Mata yang sama sedang menatapku. Tangan yang sama sedang menangkup jemariku didalamnya. Ragamu sedang utuh menjadi milikku saat ini.
“Aku yang sedang ada dihadapanmu ini, teramat mencintai kamu.”
Sigh!
Ini yang tak sama. Perpaduan dari sentuhan yang berbeda, tatapan yang berbeda dan ketulusan yang membaur dalam kata dan suara yang juga tak sama. Apa yang kau katakana dengan kesungguhan yang kau upayakan semurni mungkin tadi terdengar seperti ,”Pergi atau matilah saja sana” bagiku. Sangat mengiris, sangat sakit.
Bisakah ku pesan sebuah benturan keras yang minimal membuatku lupa bagaimana itu sakit dan bagaimana itu bersedih? Bisakah otakku dikacaukan secara parsial yang membuatnya lupa seperti apa itu kecewa dan bagaimana itu kehilangan? Karena aku hanya ingin mengingat kamu sebagai hal terindah yang pernah kudiami sebagai dunia yang artinya adalah segalanya. Sungguh!
49 Minggu bersamamu. Tak pernah kurang sedikitpun kebahagiaan di dalam sini. Tak ada yang kurang
sedikitpun didalam sini, segala ruang terisi penuh dengan kebahagiaan darimu. Kamu yang datang di saat aku selesai merapikan ruang tamu di hatiku, tepat setelah aku usai meriasnya seindah mungkin untuk disinggahi. Kita berlama-lama membagi segalanya disana, hingga waktu yang menentukan segalanya telah tepat untuk menjamumu di ruang makan, dan di dalam bilikku. Bilik yang hanya akan berisi aku dan kamu.
Rasanya seperti harus mencabut satu-satu sayap yang kupunya untuk bisa terbang tinggi dan menikmati awan kembali. Mencabut satu-satu dengan tanganku sendiri. Rasanya seperti harus mencabuti tulang sendiri, memaksanya lepas dari raga ini, hingga tinggal daging terpuruk. Rasanya menyakitkan. Aku tak akan membaginya bersamamu tentu saja. Bisa jadi kamu sedang menikam perihmu sendiri, dan memakai topeng pura-puramu. Bisa jadi kamu memang beranjak sembuh dari sakit pengharapan. Bisa juga kamu sedang mencekik cinta pelan-pelan dalam hatimu. Bisa saja.
“Peluk aku..”
Diam pecah dalam parauku, parau yang kemudian dengan sangat susah kutenggelamkan kembali jauh kebawah kuasa diri. Kamu menatapku, dan aku kehilangan kamusku dalam membaca isyaratmu. Kita berpelukan. Kucoba mengingat-ingat kembali bagaimana rasa pelukanmu yang terakhir. Tak sama. Tetap tak sama. Sekali lagi tak sama. Tapi aku tak ingin melepasnya. Aku tak ingin kehilangan pelukanmu walau rasanya tak lagi sama. Walau itu tak lagi membuatku merasa aman, damai dan memiliki segalanya. Biar kuberi tau, pelukanmu saat ini membuatku merasa ditusuki disekujur tubuh, sakit sekali, membuatku ingin menangis, sakit sekali. Tapi sungguh aku tak ingin melepasnya, tetaplah begini, setidaknya ini adalah dirimu.
Dulu aku akan mendapatkan sebuah kecupan yang masih kuingat persis bagaimana lembutnya, bagaimana hangat yang digetarkannya ke sekujur tubuhku. Bagaimana sebuah kecupan membuatku merasa sangat lengkap dan sempurna. Dulu aku selalu mendapatkanya setiap kali aku berada dalam dekapanmu. Dan aku sedang hidup di masa sekarang. Aku sedang bernafas dan susah payah menjalani peran di masa sekarang. Masih bersama kamu. Kamu yang sekarang.
“Apa aku patut dicintai, Yo?” masih kubenamkan seluruh wajahku didalam pelukanmu, mencium dada bidangmu, yang dulu selalu bisa menyampaikan hangat dan perlindungan padaku.
“Uhuumm. Kenapa bertanya begitu?”
“Nothing. I just… ah, forget it. I miss you.”
“I’m here baby. I’m hear my dear.”
Hening lagi. Pelukanmu semakin ragu. Semakin longgar dan semakin rela melepasku.
Beritahu aku, apa yang bisa aku lakukan untu memulangkanmu? Atau apa yang kau ingin kulakukan untuk aku bisa menemui dirimu lagi? Beritahu aku apa yang bisa kuberi untuk membuat kita mendapatkan hal yang sama yang pernah kita dapatkan sebelumnya.
Kamu tahu bagaimana proses kerja sebuah candu? Mereka memberikan sebuah rasa istimewa yang memabukkan, membuatmu bahagia dan melayang. Kamu tahu butuh berapa lama menjadikan candu sebagai sesuatu yang membuat ketergantungan? Mereka membutuhkan waktu yang tak cukup lama bila ada saling kecocokan. Mereka masuk dan merasuk dalam nadi, menyatu dalam darah, menyebar keseluruh tubuh. Kamu tau bagaimana sakitnya disiksa candu dan kehilangan? Sama ketika kebahagiaan dan sesuatu yang istimewa yang sebelumnya telah merasuk dalam nadi, darah dan sekujur tubuhmu disedot dengan cepat dan kamu dibiarkan terguncang karena kehilangan. Tak ada yang peduli. Tak ada yang bisa menolong. Persis. Aku kecanduan kamu.
Aku keluar dari pelukanmu. Menjauhkan tubuh beberapa inci. Ingin mengamati apa lagi yang berbeda darimu. Yah, lengkap. Dirimu menjadi orang asing kini. Tak apa, aku tetap perempuan yang sama, yang tetap kecanduan padamu. Kudekatkan kembali tubuhku. Polos. Kita lihat, sejauh apa dirimu berganti wujud.
Tak sama. Kecupanmu ragu. Tak sama. Ciumanmu gamang. Tak sama. Sentuhanmu bimbang. Segalanya tak ada yang sama hingga akhir perjamuan kita.
Katakan padaku sekarang, cara apa yang bisa membuatku sembuh dari kecanduanku?
Karena sungguh sangat menyiksa saat aku bisa memilikimu tanpa aku menemukan dirimu bahagia bersamaku kembali. Tak kah kamu memahami bahwa kita harus sama-sama bahagia untuk bisa dikatakan sebagai pasangan yang saling mencintai? Ataukah cinta sudah berhasil meregang nyawa dalam cekikan dihatimu? Kenapa tak kau cekik dengan cepat pula cinta di hatiku? Agar setidaknya mereka bisa bersatu dan bahagia di tempat yang lain.
“Sudah terlalu malam sayang. Aku harus pulang.”
“When I will see you again?”
Kamu tersenyum. Setidaknya ini yang sama. Ini yang akan mengantarku untuk selalu mengingatmu yang amat mencintaiku. Kamu yang terlalu menjagaku dan takut kehilangan diriku. Setidaknya ini yang akan menjadi hal terakhir yang kekal untuk menyimpan segalanya tentang kamu.
“Tomorrow my dear.”
***
Kukemasi segalanya malam ini. Segala rasa yang hanya kujaga untuk kuberikan padamu, segenap sakit yang kutelan dan kudekap saat tak lagi bisa memiliki kamu, seluruh waktu yang terlewat dan bergulir dengan begitu cepat selama aku bersama kamu. Segala yang harus disudahi dan dibawa pergi.
Malam ini aku berkemas. Pergi seperti yang kau mau untuk aku dan dirimu. Selamat tinggal cinta, setidaknya aku adalah satu yang pernah mengajarimu sesuatu, semoga. Jangan bertanya soal cinta yang kuat dan pengorbanan yang sungguh, kamupun tau aku ahlinya. Jangan bertanya soal berapa lama aku bisa mengobati dan merelakan ini semua, kamupun tau, aku manusia paling bodoh untuk yang satu ini.
070212
12 hari lagi
Sakit disini meradang
Langganan:
Postingan (Atom)




