11.21.2012

Lagi Serius Soal Kerja


Suka bingung gue sama perusahaan-perusahaan alay yang suka ngasi nama-nama posisi atau jabatan yang gak jelas dan undefineable. Menurut gue, perusahaan-perusahaan mace mini, adalah tipikal perusahaan-perusahaan yang PHP. Kasih lah nama AMBASADOR…Beuh!! Keren! Bayangannya udah macem mascot perusahaan. Siapa yang ga mau meeen?!

But guess what?

Kerjaannya jauh dari sekedar mascot yang cukup bediri mentereng dan di elu-elukan.
Ini semacem tipuan untuk menjerat man source apa ya?

11.20.2012

QWARTET


Perempuan ke 2 hari ini. Hari yang luar biasa, juga dengkul yang luar biasa. Kuinjak pedal gas dan segera beranjak dari tempat ini. Interior yang bagus, minimalis, tapi selalu mampu membangun atmosfir yang pas. Wanginya,…

***

Sial! 

Duitku habis! 

Credit card pun makin mendekati limit. Bisa mampus bayar tagihan bulan depan! Moreno juga pasti tak punya terlalu banyak sisa gaji untuk dihambur-hamburkan padaku. Ah! Laki-laki itu! Penuh cinta, tapi kantongnya kering minta ampun! Tentu saja aku tak rela beranjak dari ladang yang rajin dihujaninya cinta dan disiangi kasih. Tapi life style macam ini pun menyiksaku. Dia sangat mampu memenuhi kebutuhan batinku, kosong di materi duniawiku. Bahkan kata orang rajin makan cinta pun tetap membuat tubuhmu kering kurang gizi. Aku menginginkan 2 pasang sepatu itu, sebuah minidress yang membalut ketat manekin di depan sana dan lagi, aku butuh biaya untuk perawatan mobilku. Bulan masih berjalan setengah, dan napas finansialku sudah tersengal-sengal. Aku butuh Oase di padang tandus ini.

“I saw you” blackberry message from Reo. Aku celingukan, ada sesuatu yang membuncah, ada harapan yang harus aku kejar dengan benar, Oase!

“So, let me know, where are you, Sugar” masih celingukan, ujung kanan ke kiri, kusisir semua area terdekat. Nihil. Damn!

“Walla!” sepasang tangan kekar mencengkeram hangat kedua belah pundakku, bahkan aku merasakan hembusan nafasnya di sepersekian bagian tengkuk terbukaku. Well, let’s make it fast!

“Reo!! Hey, its been long time no see. I miss you, and wohooo, Great! Bahkan aku bakal tergila- gila padamu walaupun aku tau kamu seorang player! ” Damn! Harus kah? Harus! Demi hasrat hedonism ini. Gila!

“Haha, let’s see, apa yang dicari nona cantik ini disini”

“Nope! Hanya window shopping, tanggal berapa menurut lo?! Gw karyawati, bukan pengusaha macem lo.”

“Nine west? Ah! Nice one!” Kena! Aku rasa dia mengamatiku sedari tadi, mari kita lanjutkan permainan ini, mari dipercepat!

Well, 2 pasang stiletto, sebuah minidress dan kita sedang dalam perjalanan menuju apartemenku, dengan mobilku tentu saja, modus belum goal semua.

“Sorry yah panas, AC lagi trouble, anyway, thanks untuk surprise gift-nya yah. Selalu loyal seperti biasa.”

“Ini mobil bukannya deket-deket apartemen kamu ada dealernya? Kenapa ga dibawa kesana? ”

“Ah! Mahal bung! Tunggu aja mpe akhir bulan, tunggu pasokan rutin bulanan. Hahaha.”

“No no no. Let me bring it after a cup of coffee at noon.” Dengan kata lain, Reo menjeratku dengan modus Sex at Lunch-nya. Ah! Laki-laki!

***

Kita sudah 3 hari semakin intim. Bahkan dia semakin intens menghubungiku lewat media telekomunikasi macam apapun, socmed tak luput dari hujan perhatian. Risih? Yang benar saja! Sudah lama juga aku tak diganggu sensasi antara terbebani dan berbunga-bunga ini. Klien kantor, seorang pengusaha muda. Entahlah, biasanya aku cenderung lebih selektif dan membentengi diri dari stranger, tapi kali ini entah kenapa ini menjadi menarik.

“View yang bagus juga. Lumayan buat tontonan sambil minum secangkir kopi malam-malam begini.” Lantai 17 suatu gedung apartemen di bilangan pusat Kota yang lumayan terkenal hiruk-pikuk lalulintasnya, justru itu yang membuat unik, hiruk-pikuk yang tersulap sebagai langit terbalik dengan kerlip merah, putih dan kuning.
“Yang kita minum malam ini Wine, darling.” Di sodorkannya gelas kecil ramping berisi wine padaku, tangan yang lain merai pinggulku. Sepertinya aku tau kemana akhir dari perjamuan malam ini.

Di antara langit tengah kota yang gelap dan lengang, kemerlip lampu-lampu di bawah sana, wine mahal ini dan parfum yang entah apa merk-nya, aku dan Reo tenggelam dalam malam.

“Pagi nanti aku akan mengantarmu pulang..” dibisikkan persis ditelingaku sambil membimbing sepasang tanganku untuk masuk ke meja perjamuan malamnya.

***
“Moreno, selesaikan laporanmu malam ini juga, besok saya akan memakainya untuk bahan meeting. Dan,…saya mau kamu menjadi asisten saya selamat meeting.”

Damn! Lagi.

Aku harus melewatkan seharian dengan pekerjaan. Siang tadi aku gagal menemani Walla makan siang, dan malam ini pun aku harus absen dari kunjungan ke rumahnya. Pekerjaan ini menyita waktu pribadiku.

Tadinya aku ingin memberi sebuah kejutan untuk Walla-ku. Aku tau ia sudah lama mengincar stiletto dengan brand harga selangit itu. Dan malam ini harusnya aku mendapatkannya dan memberikannya sebagai kejutan.

Ah! Bahkan ekspresi girangnya sudah tergambar jelas dalam benakku. Dan kenyataannya aku harus menunda untuk melihat ekspresi girangnya malam ini. Mungkin besok.

Terkadang aku kecewa pada diriku sendiri karena keterbatasanku dalam memenuhi keinginan dan life style-nya, Walla-ku memang seorang putri yang menjelma dalam wujud manusianya, lagi-lagi seorang putri tetap membutuhkan segala hal yang terbaik. Dan aku ingin Walla mendapatkannya, karena itu aku berupaya untuknya.

“Besok malam Walla, sayang…” aku berbisik pada foto berbingkai yang bertengger manis diudut meja kerjaku.

***
Aku berusaha sekeras ini untuk mendapatkan sesuatu yang bisa membuatku mendapatkan segala yang aku inginkan. Aku tak peduli waktu. Aku tak mau tau tubuhku. Aku ingin peningkatan dan peningkatan. Uang. Yang banyak.

“Pak Reo, tender kita menang lagi Pak!”

“Oke. Kamu urus, saya mau pergi makan siang.”

Hari keberuntunganku. Pagi tadi aku terbangun dalam pelukan seorang perempuan unik, salah seorang konsultan usahaku. Setelah pesta wine, kita menikmati malam seperti semestinya. Dan masih ada jamuan pagi setelahnya. Awal hari yang hebat. Siang ini aku mendengar kabar tentang menang tender. Pemasukan baru yang melimpah. Aku harus bersenang-senang merayakannya.

“Walla!” kucengkeram 2 belah bahu telanjang itu. Menggoda sekali. Akhirnya kuberanikan diri untuk menyapa perempuan cantik angkuh ini setelah kuamati barang-barang yang diincarnya sejak sejam lalu. Menaklukkan perempuan macam ini, butuh lebih banyak uang.

Benar saja, kita sedang dalam perjalanan menuju apartemennya. Aku tau Walla tipikal perempuan pintar yang tau caranya berterimakasih, dan dia cukup pintar juga membaca maksud kunjunganku siang ini. Mari kita lakukan apa yang semestinya.

Mobil keluaran baru ini memang jauh standarnya dari koleksi mobilku, tapi untuk seorang karyawati perusahaan skala nasional, yang seperti ini sudah melebihi level. Ucapan terimakasihku atas jamuan special dari Walla, Sex at Lunch, kubereskan urusan kecil mobilnya.

Perempuan ke 2 hari ini. Hari yang luar biasa, juga dengkul yang luar biasa. Kuinjak pedal gas dan segera beranjak dari tempat ini. Interior yang bagus, minimalis, tapi selalu mampu membangun atmosfir yang pas. Wanginya,…






191112 at 00.47
bilik lain dari semestinya
Semacam Rantai, Mengait satu sama lain

10.25.2012

Favorite Sins


Astaga!


Sebuah kesalahan lagi. Terulang lagi. Semacam favourite sins. Laki-laki ini terlelap dalam posisi hampir tengkurap  di sebelahku. Aku masih terlindung selimut. Basah. Pengap sisa keringat. Beringsut pelan dari kasur yang tak lebih tebal dari 15 cm dari permukaan lantai. Ruang yang lumayan membangun mood untuk perjamuan tengah malam. Not bad. Gelap. Derit putaran fan sedikit mengusik sepi yang coba kuundang kembali. Aku suka tempat ini. Mengingatkanku akan suatu tempat yang pernah menjadi tempat terfavoritku dulu. Kamar yang lengang. Tak terlalu banyak barang walau memang orang di sebelahku ini kurang pintar menatanya dengan rapih. Bagaimanapun aku lebih menyukai kamarnya ketimbang kamarku dengan ukuran kotak dan beratap tinggi, membuatku tampak begitu kecil di dalamnya. Lantai dengan lapisan unik ini lumayan membuatku nyaman menidurinya, bantal hanya satu, entah bagaimana dia bisa menghabiskan sepanjang malam dengan cukup sebuah bantal tipis. Tanpa seprai pula. Ah! Lelaki. Tapi bagaimanapun, seperti yang kubilang sebelumnya, aku lebih suka ruangan ini ketimbang kamarku dengan banyak barang remeh-temeh yang memang tak bisa ku buang satu-satu.

Dia mendengkur halus. Sama seperti laki-laki lain sebelumnya. Karya sisa perjamuan nampaknya.

Ada sebuah sesak yang mendesak di dalam sini. Ada semacam rasa absurd yang mengganggu di sekitaran perut dan dada. Rasa yang selalu sama setelah perjamuan baru.

“Satu, dua, tiga, empat, … lima” aku menggumam tertahan. Menghitung ada berapa perjamuan seumur hidupku. Dua kali berada diangka yang sama, sisanya unggul atau tertinggal.

Langit-langit kamar rendah, putih, berdebu di sudut-sudut kaca jendela. Hidungku gatal. Aku merasa dingin. Beranjak dari lantai, kembali ke matras atau apalah namanya, mencoba mencuri hangat darinya. Dan nihil. Hasilnya tak sama.

Memang bukan dia. Sejak awalpun hati ini berkata bukan dia. Tapi sepasang mata dengan cekungan dalam itu memang membius. Membuat segalanya terlupakan, menjadikan segalanya legal dan halal. Berawal dari rasa penasaran pada bibir yang unik, mata gelap dengan cekungan dalam miliknya, dan punggung yang tak terlalu tegak menopang wibawa. Tidak terlalu mempesona memang. Hanya saja, rasa adalah rasa, dan rasa nyaris tak terelakkan. Juga hasrat liar naluriah yang sedang melambung tinggi seakan dipanggil-panggil.

Dan segalanya menjadi tepat malam ini.

Sudah bisa terprediksi sejak awal prosentase terbesar yang terjadi setelah pertemuan kami. Mencuri perhatian memang tak mudah, tapi juga tak begitu susah untukku. Dan masih dengan cara yang sama aku bisa mengundang mereka datang ke sarangku pada akhirnya.

Hhh, … kosong sekali batin ini.

Laki-laki ini hanya mampu memenuhi sebagian ragaku, bukan relung-relung sepi yang menganga di dalamnya.

Dan dari skala 1 sampai dengan 10, aku memberinya 6,8. Tak terlalu berkesan seperti yang terakhir. Dia tak mampu mengambil hati dalam perjamuan suci. Hanya berjibaku sendiri menemukan miliknya. Jemariku luput, kening ini tak tersentuh, helai-helai rambut pun berurai apa adanya. Tak menarik untuk sebuah awalan. Sialnya, aku menikmati bagaimana ia memandangku, menelanku dalam cekungan gelap matanya. Itu satu-satunya pesona.

Yang lupa kusampaikan padanya adalah, …


“Aku menyukai matamu yang cekung, mata yang sama dengan mata mantan kekasihku.”




Kali kedua pertemuan diam-diam antara aku dengan perempuan ini. Mengerikan. Ia hampir mampu membaca banyak hal yang kupikirkan. Nyali ini masih ada. Aku menggilai tubuhnya, sepasang kaki yang sering dipertontonkannya dalam balutan baju kerjanya. Sepasang kaki yang tak lebih menggoda dari bagian belakang tubuhnya yang memang menjadi pusat daya tariknya. Ah, tidak juga… wajhnya tak cantik, tak juga terlalu jelek, ia ahli mengemasnya dalam kesan unik yang membuat setiap pemiliki sepasang mata yang melihatnya menjadi bergidik dan terpesona secara bersamaan.

Nyali dan naluri ini memaksa kerja tubuhku mendekatinya dengan sebuah rasa penasaran. Perempuan yang lumayan cerdas dengan gaya bicaranya yang tak biasa dan berani menembak tepat sasaran. Aku tau ia mampu membaca segala hal yang terlintas dalam pikiranku di beberapa situasi, namun disini permainannya. Aku mengijinkannya memasuki-ku untuk memberiku jalan masuk ke pintunya.

Menarik.

Setelah beberapa malam lalu dimana aku dan perempuan ini menghabiskan dini hari dengan berpakaian lengkap dan bicara ini-itu, aku ingin hasil yang mampu memenuhi alasan akan nyali yang meninggi dan hasrat yang menari-nari belakangan ini.

Aku sedang bermain layang-layang. Sama seperti masa kecil dulu, aku masih ingat caranya, untuk membumbungkannya semakin tinggi, aku perlu menarik benang terlebih dahulu sebelum mengulurkannya cepat-cepat, dan kuulang berkali-kali, jika angin sedang berpihak, aku bisa mengikat talinya di suatu tempat, lalu bisa kutinggal sejenak bermain gundu atau yang lain.  

Malam ini kami sedang berada dalam satu atap. Rumahku tak begitu besar. Bukan bangunan mewah. Aku tak terlalu yakin mengajaknya masuk ke kamarku sendiri, masih terlalu banyak kenangan soal perempuan terakhir yang menidurinya bersamaku.

Aku tau ia mampu membaca alasanku yang picisan untuk memaksanya secara tak langsung singgah di rumahku. Tapi biarlah, toh dia juga lumayan cerdas untuk menembak kemana akhir undangan ini, dan selama ia masih dalam gaya yang sama, maka aku tau itu bukanlah masalah baginya. Dan sepertinya aku mulai meyakini perempuan ini juga memiliki rasa penasarannya sendiri tentangku.

Rambutnya panjang terurai, sesekali diacaknya sendiri, sudah 3 batang rokok habis dihisapnya. Sampai saat yang tepat, dimana jarak antara aku dan dia hanya sebuah jari, dan segalanya terjadi.

Perempuan yang unik. Binal bagiku. Tapi cerdas membawa suasana permainan ini. Dia bisa membaca persis betapa rindunya aku pada sesuatu, dan diberikannya dengan lebih dari sekedar yang aku bayangkan.


“Aku mau tidur. Bangunkan aku besok pagi. Antar aku pulang.”



Salam perpisahankah?






Siapa yang punya jaminan akan sesuatu yang kekal
251012  di 00.07Membunuh sesuatu di dalam sini

10.15.2012

Kita, Berbeda.




Tasbihku tetap tak pernah sama dengan rosariomu...
Kiblat kita sama, sujud kita berbeda kubu
Aku memintamu dlam doaku,
pun kamu memintaku dalam doamu
Ada'kah turun pertanda?

Kita bahagia?

Aku ragu..

Aku bahagia?
Ya.
Termat.

Kau?
Entahlah.
Cari jawab dalam dadamu, dalam getar yang bersemayam.


Jesusmu...
Allahku...
Kita berdoa hal yang sama...
Untuk kebahagiaan diri...

Yang berbeda, aku memintamu dalam kebahagiaanku..

Kau?
Entahlah...
Temukan jawab yang kau kunci dalam dadamu,
lewat debar, yang menggelegar.



Kita Berbeda
Satu tamparan rohani, dalam 2 kubu
AKU-KAMU
disini. 151012
di 23.23

10.01.2012

Bagaimana Jika Aku Pergi?

Pernahkah aku memberitahumu soal getar yang tak pernah habis di dalam sini,Sugar?

Ia menguat dan melemah seirama degub jantungku..

"Kamu mencintaiku?"

"Yes, dear...I do love you"

"Seperti apa?"

"Seperti aku mencintaimu"

"Sebesar apa?"

"Besaaaarr sekali"

"Kamu takut kehilangan aku?"

"Yes, of course"

"Kalau aku ilang, kamu bakal bingung?"

"Iya lah, dear"

"Kamu bakal cari?"

"Pasti"







Seringnya
011012
Kamu dalam  kenangan

9.19.2012

Malam Penantian




Batang keenam. Janjinya dalam hati, di batang ketujuh, ia akan pergi walau harus mengemasi sakit hati dan menelan bulat-bulat pil pahit yang diramunya semenjak tadi di café kopi. Desperate sekali perempuan satu ini. Lelaki yang sudah semestinya menjadi suaminya itu tak pulang malam lalu, kemarin malam, dan roman-romannya akan begitu juga malam ini. Hatinya sedang hening tanpa tuan rumah. Lampu-lampu kasih padam tanpa saklar ajaib yang disentuh untuk sekedar menghidupi rasa dan hantaran getar gelora dalam dinding-dinding cintanya.

Masih di meja yang sama. Sebuah persegi kayu dengan salah satu kakinya yang timpang, membuat resah semakin kentara setiap kali ia menjatuhkan beban lewat tumpuan sikunya dimeja. Kaki-kakinya seakan turut menciptakan irama gelisahnya, menciptakan goncangan-goncangan halus berirama pada tubuhnya. Kopi masih setengah cangkir, tak diacuhkan. Kopinya masuk angin, kedinginan dalam wadah. Badannya lebih banyak lagi diterjang angin. Tak jauh di depannya sebuah AC terpampang jumawa. Dia bukannya tak tau badannya terlalu sensitive merespon dingin, hanya saja dia sedang lupa, teralihkan oleh sibuknya aktifitas untuk menanti seseorang.

Batang keenam sudah musnah. Dihujamkan keras-keras penuh tekanan puntungnya di atas asbak. Tak puas, bara-bara kecil yang mengharap terang oranye pun masih disundut-sundut oleh puntungnya yang makin bengkok. Sakit hati menyalar diujung jemarinya. Matanya gelisah, jauh lebih gelisah jari-jemarinya, antara mengerling ke bungkus rokok, dan mengetuk-ngetuk acak permukaan mejanya. Cangkir kopi akhirnya. Disesap hingga seperempat, asam-pahit tertinggal di langit-langit mulutnya. Jelas tak sepahit apa yang dicecapnya sejak malam lalu.

Mengulang gelisah. Meja makin bergerak naik turun seiring dengan gerak tumpuan sikunya. Kaki berayun makin acak. Rambut diselipkan kebelakang dua sisi telinganya. Indera dengarnya dipersiapkan tajam-tajam menangkap sekecil apapun kemungkinan yang dinantinya.

“Last order, kakak.” Seorang waiters menunduk sopan di hadapannya. Membuyarkan kegelisahannya sekejap. Menjadi sepersekian alaasannya untuk sempat gelagapan, antara kaget dan upaya keras untuk menahan terjunnya airmata.

“Secangkir lagi hot mandaeling.”

“Baik, kakak.”

Ia mendengus. Antara lega dan kesal, entah dominan yang mana.

Seperempat gelas terakhir dihabisinya dalam sekali angkat dan teguk. Mirip-mirip tukang becak, setengahnya lebih mirip janda desperate. Lagi, jemarinya mengetuk dengan irama yang lebih jelas diatas meja. Ia memiliki alasan menunggu lebih lama kini, secangkir lagi hot mandaeling yang dipesannya.

Pandangan matanya berpindah-pindah, antara meja, ketukan jemarinya, mengulas pandangan sejauh mata memandang, dan smart phone yang tergolek di samping kirinya. Makin ngenes menyadari, tak ada yang sedang memikirkannya, terlebih, tak ada yang mencarinya.

Ia merutuki dirinya dalam hati. Merutuki harapan-harapannya yang kian hari kian membumbung tak tau diri. Merutuki diri yang kian lama kian keras kepala meyakini sesuatu yang tak juga persis pasti. Merutuki mengapa harus lelaki ini yang berbuat begini padanya. Terakhir, merutuki diri sendiri. Kembali ke dalam, menyakiti diri lagi.

Mandaelingnya sudah mengambil posisi di hadapan. Asap tipis mengepul. Aroma yang selalu dirindukannya. Khusus malam ini, aroma ini kalah saing dengan aroma lain yang menguar dari tubuh seseorang yang belum juga beranjak pulang padanya.

Kerlip merah. Mengedip nakal dari smart phone-nya. Hatinya makin gelisah. Ia memejamkan mata. Memanjatkan doa dalam hati, meraung-raung pada Tuhan yang diyakininya dalam hati, meminta dengan histeris,

“Biarkan dia Tuhan. Biarkan dia. Berilah dia untukku.”

Pelan, ragu, diraihnya gadget yang makin lama makin murah itu.

“Aku mencarimu… Kau tak ada…dimana?”

Aneh. Ia tak merasakan apa-apa lagi. Sepertinya tiga malam penantian cukup membiusnya untuk matirasa. Tak ada lega, tak ada getar. Ia sempat akan mencari dan memanggil rasa, tapi sesuatu yang kuat dalam dirinya berkata “Tidak”.

Batang ketujuh saat ini. Mandaeling masih menguapkan sisa aroma dan asap tipisnya.

Ia beranjak dari duduknya. Duduk gelisah semenjak beberapa jam lalu. Batang ketujuh masih terselip di sudut kanan bibir merah tipisnya. Kepalanya sedang dipenuhi akan arah.
Arah menemukan rumah baru.  


  


Meja berbeda yang tak pernah kunikmati bersamamu
190912
di 22.50
"ada harga yang harus kau bayar pas.."

25 di 27 lalu ... kau tinggalkan luka, bingkisan pertama darimu

Hariku beberapa menit lagi akan berlalu…

Kamu belum datang.
Aku berharap ada dering di telepon genggamku, yang membawa kabar tentang kamu.

Tapi kamu tak ada.
Tidak kabarmu, atau wujud kasatmu.
Aku tak tau kamu dimana dan seperti apa kabarmu.
Yang jelas, aku menantimu seharian.
Berharap kamu datang dan membawa kecerahan.

Ini hariku.
Harusnya kamu tidak melupakannya.
Harusnya kamu tahu sebagaimana pentingnya hari ini untuk aku jadikan bahagia.

Hariku tinggal 24 menit lagi.
Dan aku masih belum tau kamu dimana dan seperti apa keadaanmu.

Yang jelas aku kacau.

Aku membujuk diri seharian.

Aku menipu diri untuk kuat dan tetap bertahan memenangkan ego kita masing-masing hingga menjelang malam.

Hingga hariku tersisa 2 jam kebelakang.

Dan kamu tetap tak datang.
Tidak dalam kabar juga dalam kasatmu.
Aku merengek pada ruang, memanggil-manggil bahkan menjeritkan namamu dalam hatiku, berharap getarnya sampai padamu.

Tapi kamu tak ada.

Tetap kamu tak datang.
Waktu berjalan, hari sebentar lagi berganti.

Apa yang kamu lakukan seharian?
Kamu menghabiskan hariku.
Membiarkan hariku tanpa didatangi kamu.
Itu kejam.
Kamu menjahati hariku.
Kamu menjahatinya dengan tidak muncul dan membiarkanku melewati hariku sendirian.

Apa maumu?

Aku melemah, 2 jam sebelum ini berakhir.

Aku mengalah.
Aku mencarimu.
Mencari entah kabar atau rupa.
Aku ingin ada kamu di hariku.
Sekian puluh menit kulewatkan untuk mengais kabarmu, satu jam untuk memintamu pada Tuhanku.

Dan sisanya, kugunakan untuk memberitahumu dalam pesan..


Kamu perlu merasakan bagaimana teralu mencintai dan takut kehilangan.
Kamu perlu merasakan bagaimana menakutkan dan menyakitkan saat menanti seperti ini.
Aku sangat menginginkanmu lebih dari apapun hari ini.


Dan saat ini hariku tinggal 15 menit lagi.
Aku berharap ini hanya rencana nakalmu.
Sebelum 5 menit terakhir kamu akan muncul setelah mengetuk pintu itu.
Muncul dengan senyuman, itu saja, itu saja yang aku inginkan.
Aku tak ingin kamu membawa apapun atau memakai apapun, aku hanya ingin kamu di depanku, tersenyum dan masih mencintai aku dengan segenap hatimu.


Tapi semakin habis hariku.
Dan aku semakin ragu.
Aku semakin ragu permohonanku untuk kebahagiaan hari ini akan hilang.
Tak akan pernah ada.
Sekali lagi kamu membuatku mempertanyakan keberadaan diriku sendiri bagimu.
Bermakna’kah?
Apa yang membuatmu tak datang?
Yakinkah akan ada hari seperti ini di depan nanti untukku?
Yakinkah kita bisa melewatinya bersama?
Apa yang membuatmu berkeras membiarkan aku sendiri menghabiskan hari ini?

Kuberi tau satu hal…
Airmata yang sering kutumpahkan ini, jatuh karena dirimu adalah sosok yang berarti.

Airmata tak jatuh tanpa alasan.
Airmata tak mengalir hanya karna hal wajar.

Apakah kamu mencintaiku?
Tanyakan dan temukan dalam dirimu, dengan hatimu.


Apakah kamu mencintai aku?
Karena bagiku, mencintai bukanlah menyianyiakan apa yang masih pasanganmu miliki.

Karena bagiku,
mencintai bukanlah bersikap keras menyakiti.

Apakah aku masih pasanganmu?
Aku sedih kamu tak datang.


5 menit.
Dan ini menit terakhir.
Kamu tak datang.