Kamu pembunuh!
Dia bertumbuh lagi di dalamku, hidup dan berdenyut karenamu. Dia bernafas bersamaku karena ulahmu. Dia mengakar di dalamku atas ulahmu. Dan sama seperti sebelumnya, kamu membunuhnya! Entah apa sebenarnya kamu ini, bahkan syarat akan manusia hampir tak lagi bisa benar-benar kuyakini ada dan menetap padamu.
Aku telah berproses. Menghabisi waktu demi waktu, mengupas lapis-lapis kemarahan, mengampuni begitu banyak kesalahan, melepasmu. Dan di depan pintu kemenanganku kamu datang dengan ribuan keluhmu. Memintaku mengulurkan tangan. Memberikan ruang untuk lebih dari sekedar maaf. Kamu masuk terlalu dalam, tidak mengindahkan pagar-pagar kewarasan dan kekinian yang kamu tau pasti telah susah payah aku rangkai.
Aku jatuh pada putaran cinta bersamamu. Dan kamu tak bergeming seperti dulu. Apa kamu pernah peduli? Apa kamu pernah mau tau?
Dimana hatimu..
Kamu mau membunuhnya sekali lagi.
Dia menjerit-jerit di dalamku, memohon ampun
Kamu tak peduli.
010813
Harusnya aku tak lahir bulan ini
Aku menari... mengikuti irama yang diciptakan Sang Pemilik hidup untukku... Membuat ritme-nya terlihat halus, indah dan gemulai... Inilah aku.
8.01.2013
7.28.2013
(me) Mati (kan) Rasa
Apa yang bisa kamu pertanggung jawabkan pada jiwamu?
Bisakah kamu menjamin untuk tak lagi membiarkan hati terluka dan batin tersiksa?
Apa sih yang bisa aku hindari dari sakit dan kehilangan?
Apa yang bisa kamu pertanggung jawabkan pada jiwamu
Bisakah kamu menjamin untuk tak lagi membiarkan hati terluka dan batin tersiksa?
Aku tidak bisa sebegitunya menjaga hatiku untuk kemudian tidak terluka lagi. Bahkan tanpa aku meminta, terkadang hati memiliki kehendaknya sendiri. Naluri berjalan sendiri terlepas dari urusan logis – tak logis.
Lalu apa yang lebih bijak dari membiarkan hati lepas dan bebas merasakan apapun semau-maunya? Jatuh cinta, kemudian dibumbung tinggikan asa-asa, dibuai-manja suka cita termasuk kecewa, terluka patah hati hingga kehilangan.
Tidak ada yang bisa ku control dari itu semua. Hati akan selalu menemuinya. Yang bisa aku upayakan dengan keras dan lebih keras lagi hanyalah berhenti terhanyut, tetap berdiri sebagai sentral, sebagai poros, bukan terombang-ambing rasa dan ikut larut bahkan terlalu larut di dalamnya.
Entahlah, hanya saja, bagiku sungguh kurang begitu bijak jika aku begitu mengatur hati, memanipulasi rasa dan mencekik segala rasa tanpa pilah-pilih. Kututup hatiku dar segala rasa dan bahaya. Bagiku ini sama saja dengan kutulikan pendengaran jiwaku, kubutakan mata hatiku dan kubekap suara hati. Seperti mencacati diri sendiri. Aku tak mau.
Dan sebagai gantinya, ada harga mati yang tak bisa kutawar dari sebuah pilihan, aku membuka hati untuk segala kemungkinan rasa yang datang dan hinggap, entah sementara atau bahkan menetap.
Bukankah datang dan pergi selalu terjadi? Bukankah pergantian dan perubahan adalah sesuatu yang hampir pasti?
Siap?
Entahlah.
Hanya saja semenjak saat itu, aku merasa setengah matirasa.Suka-luka-duka-cita hinggap dan melompat kesana kemari, aku hampir tak bisa menyimpan segala rasa yang mampir dengan baik dan semestinya.
Mungkin benar, aku pun saat ini masih berproses, entah menjadi apa dan bagaimana, menuju suatu perubahan tentu saja. Hanya saja aku belum mampu meramalkan akan lebih baik atau bagaimana, hanya saja aku begitu menginginkan aku semakin kuat dan dimampukan olehNya tentu saja.
Segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan.
Aku selalu yakin semua yang terjadi selalu memiliki tujuan.Persetan, ini urusan Tuhan, urusanku hanyalah menjalaninya sebaik-baiknya, sekuat dan mampuku, hanya saja aku takut Tuhan berhenti membelaiku hingga aku berjalan lagi pada jalan-jalan setapak yang membuatku begitu mudah menghilangkan nyawaku sendiri.
Jika perlu, aku akan membayangkan bahwa siapapun yang aku cintai adalah orang-orang dengan masa hidup yang pendek, supaya aku mampu menghargai kekinian, apa yang masih kumiliki bersamanya tiap detiknya. Supaya aku tak begitu cerobih menghambur-hamburkan waktu dan mengotori memori.Mengalah itu jelas. Cinta ahli melakukannya, hanya saja tak semua manusia mampu memahami cinta, bagaimana cinta,hakikatnya dan apa yang dimaui cinta. Tak semua manusia memedulikan cinta yang ada di dalam dirinya, yang tumbuh dan mengakar dalam jiwanya.
Andai saja ..
280713 , 23:48
Kalau saja..
7.23.2013
Pesan
Tiba-tiba terbersit untuk merengek pada Tuhan, memintamu lagi. Tapi aku sendiri juga tak begitu yakin untuk keinginan yang ini. Inginkah? Sekedar butuh sarat afeksi kah? Atau memang benar hati ini hanya melihatmu.
Entahlah.
Entahlah.
Sejujurnya aku masih terlalu lelah untuk melawan dunia, mengingkari semesta soal kita. Seperti yang lalu-lalu. Entahlah. Aku tak tau. Aku tak paham betul seperti apa ini dan apa pula yang sedang dikonspirasikan semesta dan waktu padaku, yang ada kamu di dalam putarannya. Sejujurnya aku masih takut. Luka yang lalu masih basah tentu saja. Masih terlalu mudah untuk dicongkel dan berdarah lagi, oleh siapapun.
Membayangkanmu bersama sosok lain? Melewati dan melakukan segala ritual rutinitas kita dulu?
Ah, bunuh saja aku!
Sekali lagi aku lebih rela menelan berbutit-butir pil aneka rupa daripada diminta untuk membayangkan atau memposisikan diri disana. Aku hanya tak ingin semakin melukai diriku. Apakah bukan hakku untuk menyayangi diri ini seutuhnya? Apakah bukan hakku untuk menjaga hati ini tetap tegar dan baik-baik saja?
Kamu yang dulu pergi dengan segala penolakan dan kekejaman padaku. Bukan aku yang memintamu. Tapi tak apa. Segala hal terjadi untuk sebuah alasan. Aku tak pernah tau apa alasan dibalik segalanya. Tuhan paling pandai bermain-main dengan rahasia. Dan kita manusia, tenggelam dalam asumsi-asumsi kita.
Terkadang aku teringat lagi akan betapa kejamnya kamu membuang aku. Akan begitu jijiknya kamu dan menolakku untuk menjaga hati tetap padamu. Menyakitkan.
Mau tau bagian mana yang paling menyakitkan?
Bagian saat kamu memperlakukan aku seperti fans groupies-mu, yang seakan-akan aku rela telanjang di depanmu hanya untuk bisa bersamamu sedikit lebih lama. Kamu lupa, aku pun punya harga diriku sendiri, kehormatanku sendiri. Jika kamu pernah menolaknya dan menghempaskannya pergi, maka jangan pernah menudingku tak berperasaan saat aku mulai lupa bagaimana menerimamu dengan baik kembali.
Kamu perlu tau, luka yang tertinggal disini, tak mudah kuobati seorang diri.
230713 at 02:14
Sakit ini masih disini
Entahlah.
Entahlah.
Sejujurnya aku masih terlalu lelah untuk melawan dunia, mengingkari semesta soal kita. Seperti yang lalu-lalu. Entahlah. Aku tak tau. Aku tak paham betul seperti apa ini dan apa pula yang sedang dikonspirasikan semesta dan waktu padaku, yang ada kamu di dalam putarannya. Sejujurnya aku masih takut. Luka yang lalu masih basah tentu saja. Masih terlalu mudah untuk dicongkel dan berdarah lagi, oleh siapapun.
Membayangkanmu bersama sosok lain? Melewati dan melakukan segala ritual rutinitas kita dulu?
Ah, bunuh saja aku!
Sekali lagi aku lebih rela menelan berbutit-butir pil aneka rupa daripada diminta untuk membayangkan atau memposisikan diri disana. Aku hanya tak ingin semakin melukai diriku. Apakah bukan hakku untuk menyayangi diri ini seutuhnya? Apakah bukan hakku untuk menjaga hati ini tetap tegar dan baik-baik saja?
Kamu yang dulu pergi dengan segala penolakan dan kekejaman padaku. Bukan aku yang memintamu. Tapi tak apa. Segala hal terjadi untuk sebuah alasan. Aku tak pernah tau apa alasan dibalik segalanya. Tuhan paling pandai bermain-main dengan rahasia. Dan kita manusia, tenggelam dalam asumsi-asumsi kita.
Terkadang aku teringat lagi akan betapa kejamnya kamu membuang aku. Akan begitu jijiknya kamu dan menolakku untuk menjaga hati tetap padamu. Menyakitkan.
Mau tau bagian mana yang paling menyakitkan?
Bagian saat kamu memperlakukan aku seperti fans groupies-mu, yang seakan-akan aku rela telanjang di depanmu hanya untuk bisa bersamamu sedikit lebih lama. Kamu lupa, aku pun punya harga diriku sendiri, kehormatanku sendiri. Jika kamu pernah menolaknya dan menghempaskannya pergi, maka jangan pernah menudingku tak berperasaan saat aku mulai lupa bagaimana menerimamu dengan baik kembali.
Kamu perlu tau, luka yang tertinggal disini, tak mudah kuobati seorang diri.
230713 at 02:14
Sakit ini masih disini
7.19.2013
Part
1 : Aku takut. Dan masih selalu takut sampai kalian bisa menjaminku tak apa-apa dan aman-aman saja disini bersama kalian di dalam kamu. Apa yang kamu lakukan barusan?! Kamu menakutiku lagi. Lihat ini! Aku menangis ketakutan lagi kini! Aku hanya mau aman. Jangan bawa-bawa aku setidaknya. Aku hanya ingin tenang.
2 : (ia marah. Sembunyi lagi diantara 2 lututnya. Tenggelam dalam guncang halus. Aku sangat tak ingin melihatnya pecah dalam guncangan yg lebih hebat. Tak mau lagi. Aku tak mau si kecil tadi ketakutan karena melihatnya menangis terguncang-guncang lagi)
3 : Pergi! Jangan dekati aku lagi! ( tentu saja matanya memerah kini. Napasnya memburu amarah. Dia marah, tak lain lagi, padaku satu-satunya)
5 : Aku sudah peringatkanmu. Kau berkeras. Alasan kemanusiaan, alasan memegang janji, segala alasan kau dewakan! Lihat apa yang kamu dapat! Penghianat tak perna belajar bagaimana caranya menjaga amanat! Masalah padamu! Kau terlalu mudah membuka lebar semua pintu-pintumu! Dengan kurang ajarnya dia masuk dalam segala penjuru kelemahanmu, kemurahanmu. Kau mau menyakiti kami lagi?! Kau mau menyiksa dan memecah belah kami lagi?! Membuat kami saling terasing dan membentengi wilayah kami sendiri-sendiri?
Self : Maafkan aku, aku tak bermaksud memberi jalan pada luka. Menyakiti kalian adalah jalan bunuh diri untukku. Maafkan aku, aku menyayangi kalian, menyayangi diriku dan ya, aku masih menyayanginya. Maafkan aku, aku tak ingin memberikan hati alasan ubtuk terjatuh dan terluka lagi. Tapi aku tau, kalian perlu tau, kita semua harus tau, bahwa tak satupun dari kita, bisa benar-benar menjaga hati dari sakit hati. Jangan marah, jangan hakimi aku, aku hanya mengikuti naluriku, mendengarkan apa kata hati. Mencoba memahami pesan ilahi. Aku membutuhkan kalian, aku menyayangi kalian, jangan begini. Aku pun tak ingin tersakiti lagi. Ya, aku tau, kita perlu lebih berhati-hati.
190713. At 01:09
Tutup pintu. Ketukanmu membuatmu sopan saat bertamu.
Ini hati, bukan dunia fantasi
2 : (ia marah. Sembunyi lagi diantara 2 lututnya. Tenggelam dalam guncang halus. Aku sangat tak ingin melihatnya pecah dalam guncangan yg lebih hebat. Tak mau lagi. Aku tak mau si kecil tadi ketakutan karena melihatnya menangis terguncang-guncang lagi)
3 : Pergi! Jangan dekati aku lagi! ( tentu saja matanya memerah kini. Napasnya memburu amarah. Dia marah, tak lain lagi, padaku satu-satunya)
5 : Aku sudah peringatkanmu. Kau berkeras. Alasan kemanusiaan, alasan memegang janji, segala alasan kau dewakan! Lihat apa yang kamu dapat! Penghianat tak perna belajar bagaimana caranya menjaga amanat! Masalah padamu! Kau terlalu mudah membuka lebar semua pintu-pintumu! Dengan kurang ajarnya dia masuk dalam segala penjuru kelemahanmu, kemurahanmu. Kau mau menyakiti kami lagi?! Kau mau menyiksa dan memecah belah kami lagi?! Membuat kami saling terasing dan membentengi wilayah kami sendiri-sendiri?
Self : Maafkan aku, aku tak bermaksud memberi jalan pada luka. Menyakiti kalian adalah jalan bunuh diri untukku. Maafkan aku, aku menyayangi kalian, menyayangi diriku dan ya, aku masih menyayanginya. Maafkan aku, aku tak ingin memberikan hati alasan ubtuk terjatuh dan terluka lagi. Tapi aku tau, kalian perlu tau, kita semua harus tau, bahwa tak satupun dari kita, bisa benar-benar menjaga hati dari sakit hati. Jangan marah, jangan hakimi aku, aku hanya mengikuti naluriku, mendengarkan apa kata hati. Mencoba memahami pesan ilahi. Aku membutuhkan kalian, aku menyayangi kalian, jangan begini. Aku pun tak ingin tersakiti lagi. Ya, aku tau, kita perlu lebih berhati-hati.
190713. At 01:09
Tutup pintu. Ketukanmu membuatmu sopan saat bertamu.
Ini hati, bukan dunia fantasi
7.10.2013
Tuhan,..
Tuhan, .. Pantaskah aku?
Aku mendamba seseorang yang menuntunku padaMu
Aku mendamba kasih yang jelmaan dari perpanjangan kasihMu
Aku mendamba pemilik nama yang kau tulis dalam kitab akhir
nasibku
Aku mendamba seseorang yang menuntunku padaMu
Aku mendamba kasih yang jelmaan dari perpanjangan kasihMu
Aku mendamba pemilik nama yang kau tulis dalam kitab akhir
nasibku
100714
Tuhan,..
00:35
7.08.2013
Surat Doa
Tuhan apa yang terjadi?
Kau mengembalikan makna hidup pada genggamku
namun mengambil nyata darinya.
Tapi Tuhan, … Jika ini adalah hukuman atas
bagaimana aku begitu takabur mengingkari nikmatMu, maka kumohon sebuah kekuatan
dan kebesaran hati untuk menerimanya.
***
Aku berdiri di
depan cermin setinggi satu seperempat kali tinggiku. Ada yang berbeda. Entahlah
aku tak yakin, tapi aku merasa sorot tatapku tak lagi sama. Aku merasa wajah
ini begitu suram.
Kurang tidur?
Bisa jadi. Mengingat
pola hidupku yang semacam nyaris terbalik dari kebanyakan manusia normal dalam
kurva mestinya. Aku jatuh terlelap dalam tidur-tidur ayam menjelang subuh dan
seringnya terbangun dengan kondisi terkaget di beberapa jam kemudian. Kalau aku
tak salah mengingat dan menghitung, tiga atau empat jam bukanlah waktu cukup
yang ideal untuk ditiduri.
Aku rasa banyak
orang religious yang selalu benar akan kalimat Ketuhanan mereka.
“Tuhan mendengar segala doa, dan memenuhinya.”
Tuhan
mendengarkan doa ku, aku ingin kurus. Dan dia memberiku kesempatan memenuhinya
lewat insomnia dan siklus muntah-muntah di tengah malam.
Well.. Normal was boring, I know, but God, I
missed to be it.
Badanku
mengurus. Aku tak memercainya sampai aku sendiri bosan mendengar testimoni
sekitar yang mengataiku ini-itu soal penyusutan drastis bobot tubuhku, yang
bagi mereka terlihat begitu signifikan pada bentuk tubuhku. Sampai suatu malam
aku menyadarinya dengan mataku sendiri, kaki-kakiku mengurus, dan lengan atasku
menyusut diameternya.
Aku terlihat
menyedihkan. Lucunya ini terjadi ketika aku memutuskan untuk bahagia.
Lalu aku mulai
meragukan diriku sendiri. Aku tak yakin ini sekedar gangguan tidur dan pola
makan. Aku mencurigai diriku sedang menyakiti dirinya lagi. Oh kumohon jangan
lagi, jangan di saat aku ingin kembali menyayangi diri ini.
Sejujurnya
belakangan aku merasa begitu sering “melayang”. Entahlah, ini terasa begitu
ringan. Bisa jadi karena aku kehilangan beberapa kilo dari bobot semulaku. Atau
bisa jadi karena aku dilanda shock kepala setelah menguras habis isi perutku.
Sejujurnya aku mulai merasa takut.
“Tuhan, bolehkah aku minta baik-baik saja?
Aku ingin kembali pada makna normal seutuhnya. ”
080713/04:06
God, Save Me
6.01.2013
CHEATER!
Apa yang terjadi
sebenarnya. Kamu pergi, dan aku percaya ini karena kita. Karena aku yang begini
dan kamu yang begitu, karena kita tak menemukan sebuah cara baru yang bisa kita
pakai bersama-sama untuk adil. Aku sempat menyalahkan diriku atas apa yang
terjadi diantara kita, dan rasa itu menghukumku. Aku sakit di banyak tempat,
aku terluka di banyak waktu, dan aku tergelincir beberapa kali di beberapa moment.
Dan ini semua beberapa persennya berkat ulahmu. Akui itu.
Aku mau pergi.
Aku mau bisa juga melangkah jauh ke depan -menuju arah yang tak lagi sama denganmu-
sepertimu. Aku ingin langkah-langkah ini ringan menapak maju. Aku tak mau
diberati ketak-mampuanku atas apa yang terhubung denganmu. Aku ingin pergi
meninggalkan sakit, seperti caramu pergi meninggalkan aku. Kamu pernah
berjanji, ah bukan, kita telah sepakat masalah menjaga tali-tali kebaikan untuk
saling bertautan, tapi kamu mengingkarinya di malam perdana kita untuk
membuktikannya. Kamu menjadi setan yang bertubuh kamu, bertingkah semenyebalkan
dan sekejam penjahat dalam sosok kamu. Kamu bertingkah acuh –come on aku tak
memintamu menggandeng dan memeluk pinggangku- berjalan begitu jauh di depan
seakan aku perempuan bau yang tak nyaman untuk sekedar kamu jajari saat
berjalan. Kamu bicara seakan aku adala anggota fans beratmu yang rela kamu
apa-apakan untuk membayar kesempatan bersama. Aku baru saja bisa berdiri tegak malam itu, dan kamu menghantamku telak dengan tingkahmu. Sesusah itu berlaku baik pada aku yang dulu ada sosok untukmu?
Aku tak tau
dimana hatimu saat itu. Dimana rasa kemanusiaanmu.
Malamnya aku
memenuhi apa yang belum kulakukan denganmu dan hanya malam itu kesempatan aku
memakai baju kedua sekaligus yang terakhir yang kamu belikan untukku. Aku tak
peduli kamu sadar/tidak, aku melakukannya untuk kebutuhanku sendiri. Supaya aku
lega dan tak merasa tak berhutang pamer. Dalam mobil yang minim suara. Aku
masih baik-baik saja. Sampai entah tiba-tiba kamu menyebalkan dengan mengumpat
sumpah serapah yang selama usia hubungan kita yang lalu, tak lagi pernah kamu
ucapkan. Kamu menjadi makhluk mengerikan malam itu. Belum lagi temperamenmu
yang berubah seakan aku tak pernah mengenalmu sebelumnya. Kamu mengangkat
telepon dari suara perempuan yang diseret manja di sebelahku. Sedangkan aku,
aku harus bertindak sewajarnya untuk kenyamananmu dan kepentinganku sekaligus.
Sepanjang umur
hubungan kita, seingatku kamu tak pernah mempermasalahkan hal sepele sebegini
pentingnya, seakan ini urusan hidup-mati yang membawa-bawa nyawa. Kamu protes
padaku yang kurang pas menutup pintu mobil (papa)mu. Aku minta maaf. Kamu mengungkit
lagi. Aku muak, ya, kali ini giliran aku yang bilang bahwa ini ‘akumulasi
kemarahanku atas tingkahmu seharian’. Aku menangis, menelepon ibu (kamu orang
yang mengembalikanku pada fungsi keluarga), aku bercerita semua yang terjadi
dan menyebalkan hari itu. Ibu meminta untuk aku menjaga diriku sendiri tanpa
lagi memberati kamu. Aku tak yakin. Tapi aku tau pelan-pelan aku pasti bisa
mengerti.
Sampai suatu
hari aku merasa kamu tak lagi membutuhkanku ada dalam hidupmu. Aku pergi, demi
keleluasaanmu, demi kemudahanku, sekali lagi demi kita walau kini aku dan kamu
bukanlah kita lagi. Aku memutuskan semua kontak. Aku memutus akses. Aku bersiap
menambah speedku, dan mengembalikan segala kebebasan padamu. Supaya kamu tak
perlu takut-takut atau tak enak hati saat ingin memajang foto bersama perempuan
barumu.
Aku menemukan
sebuah temuan dalam link-link pertemanan kita. Tuhan berbicara lagi padaku. Aku
menemukan sebuah foto, melihat tanganmu merangkul pundak perempuan lain. Ha.
Bingo! Kamu tak bisa membunuh sensibilitasku, dan kamu perlu tau, kadang apa
yang bisa kita lihat berbicara jauh lebih banyak dari apa yang bisa mulut katakana
dengan jujur. Besoknya aku tau kenyataannya, kamu sedang menjalin sesuatu
bersama salah satu objek kecurigaanku sejak dulu.
Hebatnya kamu.
Apa yang sedang kamu mainkan dengan apik di
belakangku selama ini? Apa yang sedang kamu rajut dengan rapih tanpa
sepengetahuanku selama ini? Sedangkan
aku yakin kamu tau persis sejauh apa aku menghukum diri karena aku menyalahkan
diri atas segala yang terjadi diantara kita, dan ini karena aku percaya, tidak
pernah ada siapa-siapa.
Maka jangan tanya
kenapa aku tak mau menjawabmu. Kamu masih mengenal caraku marah. Dan bagaimana
bicaraku padaku yang sedang marah. Maka gunakan otakmu kali ini, bawa hatimu
serta dan perlakukan semestinya.
1st
0f June 13
010613
, 03:09
Ruang
Panas
Ya, aku meninggalkan pesan
Langganan:
Postingan (Atom)