11.03.2010

GANGGUAN SOMATOFORM DAN DISOSIATIF

Latar Belakang

Diawali dalam DSM-III klasifikasi mulai didasari perilaku yang dapat diamati, bukan berdasarkan asumsi etiologi. Dalam gangguan anxietas, tanda – tanda kecemasan sangatlah jelas, namun kecemasan tidak secara otomatis dapat diamati dalam gangguan somatoform dan disosiatif. 

Dalam gangguan somatoform, individu mengamati simptom – simptom fisik yang mengindikasi kerusakan fisik atau disfungsi, yang terkadang cukup dramatis, namun secara fisiologis tidad ditemukan kerusakan apapun. Dalam gangguan disosiatif, individu mengalami gangguan kesadaran, memori dan identitas. Munculnya dua gangguan ini umujmnya berkaitan dengan pengalaman yang penuh stress, dan kedua gangguan ini terkadang muncul secara bersamaan. 

Gangguan Somatoform

Secara istilah soma berarti “tubuh”. Dalam gangguan somatoform, masalah – masalah psikologis muncul dalam bentuk gangguan fisik. Simptom – simptom fisik gangguan somatoform, yang tidak dapat dijelaskan secara fisiologis dan tidak berada dalam kesadaran, diduga terkait dengan faktor – faktor psikologis, diperkirakan kecemasan, sehingga diasumsikan memiliki penyebab psikologis.

 A.1. Gangguan Nyeri, Gangguan Dismorfik Tubuh dan Hipokondriasis

Pada gangguan nyeri, seseorang mengalami rasa sakit atau nyeri yang menyebabkan distress dan kerusakan yang significant; faktor – faktor psikologis dianggap berperan penting dalam muncul, Menetap dan parahnya rasa nyeri. Rasa nyeri dapat memiliki keterkaitan temporal dengan semacam konflik atau stress, atau memungkinkan individu menghindari aktivitas yang tidak menyenangkan dan mendapatkan perhatian atau simpati yang tidak diperoleh jika individu tersebut dalam keadaan sehat. Diagnosis akurat sulit ditegakkan kartena pengalaman rasa nyeri subjektif selalu merupakan fenomena yang dipengaruhi secara psikologis; yaitu, rasa nyeri rasa nyeri bukan sekedar pengalaman sensori, seperti penglihatan dan pendengaran. Dengan demikian memutuskan rasa sakit menjadi nyeri somatoform merupakan hal yang sulit. Pasien yang rasa sakitnya dilandasi gangguan fisik dapat menunjukkan bagian yang sakit secara lebih spesifik, memberikan deskripsi sensiri rasa sakitnya secara lebih rinci, dan mengaitkan rasa sakit tersebut secara lebih jelas dengan berbgai kondisi yang meningkatkan atau mengurangi rasa sakit (Adler dkk., 1997).
  Pada gangguan dismorfik tubuh seseorang diupenuhi kekhawatiran dengan kerusakan penampilan yang hanya dalam bayangannya atau dilebih – lebihkan, seringkali pada wajah, contohnya; kerutan wajah, bulu diwajah yang terlalu lebat serta bentuk atau ukuran hidung. Beberapa pasien dengan gangguan ini dapat  menghabiskan waktu selama berjam – jam secara kompulsif setiap hari untuk mengecek kerusakan atau kekurangan tersebut, bercermin. Sedangkan sejumlah apsien lain berusaha menghindari perhatian mengenai kerusakan atau kekurangan tersebut dengan cara membuang semua cermihn yang ada dirumah mereka atau dengan menutupi atau menyamarkan bagian – bagian yang dianggap mengalami kekurangan atau kerusakan, contohnya, dengan mengenakan pakaian yang longgar (Albertini & Phillips, 1999). Beberapa yang lain bahkan sampai mengurung diri dirumah agar tidak diketahui orang masalah kerusakan yang dianggapnya. Gangguan ini menjadi pemicu stress atau stressor yang menyebabkan seseorang sampai bunuh diri. Gangguan dismorfik tubuh umunya terjadi pada perempuan, umumnya berawal pada masa remaja akhir, dan sering kali komorbid dengan depresi, phobia sosial dan gangguan kepribadian (Phillips & McElroy, 2000; Veale dkk., 
1996).
Hipokondriasis adalah gangguan somatoform dimana individu terpreokupsi mengalami suatu penyakit serius yang menetap, terlepas dari keputusan medis yang menyatakan sebaliknya. Gangguan ini umunya muncul pada masa dewasa awal, dan cenderung memiliki perjalanan yang kronis. Teorinya adalah mereka (pasien tsb) bereaksi secara berlebihan terhadap sensasi fisik biasa dan abnormalitas minor, seperti; denyut jantung yang tidak teratur, berrkeringat, batuk yang tidak sering, setitik rasa sakit, sakit perut, sebagai bukti keyakinan mereka. Konsisten dengan pemikiran ini, ketika diminta memberikan kemungkinan penyebab suatu sensasi fisik, seperti merasa jantungnya berdebar, orang – orang memiliki skor tinggi dalam suatu pengukuran hipokondriasis lebih memiliki kemungkinan dibanding yang lain untuk mengatribusikan sensasi tersebut terhadap suatu penyakit (MacLeod, Haynes & Sensky, 1998). Hipokondriasis sering muncul bersama gangguan anxietas dan gangguan mood yang mengarahkan beberapa peneliti berpikir bahwa hipokondriasis bukan merupakan gangguan tersendiri, namun sebagai suatu simptom dari gangguan lain (Noyes, 1999). Hipokondriasis tidak dibedakan secara tepat dari gangguan somatisasi, yang juga dicirikan oleh riwayat panjang mengenai keluhan penyakit medis (Noyes dkk., 1994).
A.2. Gangguan Konversi
Dalam gangguan konversi, simptom – simptom sensori atau motorik seperti kehilangan penglihatan secara mendadak atau kelumpuhan, mengindikasikan suatu penyakit dengan kerusakan neurologis atau sejenisnya, walaupun organ – organ tubuh dan sistem saraf dalam kondisi baik. Individu dapat mengalami kelumpuhan separuh atau seluruhnya pada lengan atau kaki; kejang dan gangguan koordinasi; kulit terasa tertusuk, perih atau menggeletar; insensitivitas terhadap rasa sakit; hilang atau lemahnya pengindraan, yang disrbut anasthesia, walaupun secara fisiologis mereka normal. Aphonia, hilangnya suara dan hanya dapat berbicara dengan berbisik dan Anosmia, hilangnya atau melemahnya indra penciuman atau simptom – simptom konversi lain.
Sifat psikologis dalam simptom – simptom kenversi juga tercermin dalam fakta munculnya simptom – simptom tersebut secara mendadak dalam berbagai situasi penuh tress, yang sering kali memungkinkan individu menghindari beberapa aktivitas atau tanggung jawab, atau mendapatkan perhatian yang diinginkan. Istilah konversi bermula dari Freud, yang berpendapat bahwa energi insting yang ditekan dialihkan ke dalam saluran sensori – motorik yang menganggu fungsi normal. Dengan demikian, kecemasan dan konflik psikologis diyakini diubah menjadi simptom – simptom yang mereka alami, juga tidak mengaitkan simptom – simptom tersebut dengan situasi apapun yang penuh stress yang mereka alami.
    Histeria, istilah ini awalnya digunakan untuk menggambarkan apa yang saat ini disebut sebagai gangguan konversi, memiliki sejarah panjang yang dapat ditelusuri hingga ke tulisan – tulisan awal mengenai perilaku abnormal. Sedangkan Hipocrates menganggapnya sebagai masalah perempuan yang dikarenakan jalannya uterus keseluruh tubuh. Dalam bahasa yunani, hysteria berarti “rahim”. Berjalannya uterus diasumsikan sebagai keinginan tubuh untuk menghasilkan anak.
Simptom – simptom konversi umumnya berkembang pada masa remaja atau dewasa awal. umumnya setelah terjadinya suatu stress dalam kehidupan. Suatu episode dapat berakhir secara mendadak, namun cepat-lambat gangguan tersebut kemungkinan akan kembali, dalam bentuk awalnya atau dalam suatu simptom yang memilik sifat dan tempat yang berbeda. Gangguan konversi juga sering kali komorbid dengan berbagai diagnosis lain pada Aksis I, contohnya, depresi dan oenyalah gunaan zat, dan dengan gangguan kepribadian, terutama gangguan kepribadian ambang historik (Binzer, Anderson dan Kullgren, 1996; Rechlin, Loew& Jorashky, 1997).

A.3. Gangguan Somatisasi

Pada tahun 1859 seorang dokter berkebangsaan Prancis, Pierre Briquet menggambarkan suatu sindrome yang pada awalnya diberi nama sesuai dengan namanya, Syndrome Briquet, dan kini dalam DSM-IV-TR disebut gangguan somatisasi. Keluhan somatik yang berulang dan banyak memerlukan perhatian medis, namun tidak memiliki sebab fisik yang mendasari munculnya gangguan ini. Untuk memenuhi kriteria diagnostik, individu penderita harus mengalami keempat hal dibawah ini:
Empat simptom rasa sakit dibagian yang berbeda (kepala, punggung, sendi)
Dua simptom ghastrointestinal (diare dan mual)
satu simpton seksual selain rasa sakit (tidak berminat pada hubungan seksual, disfungsi erektil);
Satu simptom pseudoneurologis (seperti yang terjadi dalam gangguan konversi)
DSM-IV-TR menctat bahwa simptom – simptom spesifik gangguan ini dapat bervariasi antarbudaya. Terlebih lagi, gangguan tersebut dinilai lebih sering muncul pada budaya yang tidak mendorong ekspresi emosi secara terbuka (Ford,1995).
Gangguan somatisasi umumnya bermula pada masa dewasa awal (Cloninger dkk., 1986). Walaupun mungkin tidak sestabil seperti yang dijelaskan dalam DSM karena satu studi mutakhir hanya sepertiga dari pasien yang menderita somatisasi masih memenuhi kriteria diagnostik ketika diukur kembali 12 bulan kemudian (Simon & Gureje,1999).
A.4. Etiologi Gangguan Somatoform
Etiologi Gangguan Somatisasi

    Sebuah pandangan perilaku mengenai gangguan somatisasi menyatakan bahwa berbagai macam rasa saqkit dan nyeri, rasa tidak nyaman, dan disfungsi merupakan manifiestasi kecemasan yang tidak realistis dalam sistem – sistem tubuh. Sejalan dengan pemikiran bahwa terdapat faktor kecemasan yang tinggi, pasien penderita gangguan somatisasi memiliki level kortisol yang tinggi, suatu indikai bahwa mereka berada di bawah tekanan (Rief dkk., 1998). Bila keberfungsin normal terganggu, pola maladaptif akan menguat karena menghasilkan perhatian dan alasan untuk menghindari sesuatu.
Teori Psikoanalisis Mengenai Gangguan Konversi

Gangguan konversi memiliki posisi utama dalam psikoanalisis karena ketika menangani kasus – kasus inilah Freud mengembangkan sebagian besar konsep utama psikoanalisis. Gangguan konversi memberika kesempatan besar padanya untuk menggali konsep ketidaksadaran. Freud menyatakan  bahwa gangguan konversi pada perempuan berakar pada elektra kompleks dimasa kanak – kanak yang belum terselesaikan karena adanya suatu represi. Pada periode lanjut dalam hidup seseorang yang bersangkutan, kepuasan seksual atau peristiwa – peristiwa khusus akan membangkitkan impuls-impuls yang ditekan tersebut dan akan menyebabkan kecemasan. Kecemasan kemudian diubah dan dikonversikan menjadi simptom – simptom fisik.
Teori Perilaku Mengenai Gannguan Konversi 
Suatu penjelasan mengenai terjadinya gangguan konversi disampaikan oleh Ullman dan Krasner (1975). Mereka menganggap bahwa gangguan konversi sebagai malingering. Orang yang bersangkutan menunjukkan simptom – simptom untuk mencapai suatu tujuan. Mereka berpendapat, orang yang mengalami gangguan konversi berusaha berprilaku sesuai dengan konsepsinya mengeni perilaku seseorang yang menderita suatu penyakit yang mempengaruhi kemampuan motorik dan sensorik.
Faktor-faktor Sosial dan Budaya dalam Gangguan Konversi 
Kemungkinan berperannya faktor – faktor sosial dan budaya ditunjukkan dari penurunan tajam insiden gangguan konversi selama abad terakhir. Penurunan insiden reaksi konversi ini kemudian dapat diatribusikan pada tatakrama seksual secara umum lebih longgar. Meningkatnya kecanggihan psikologis dan medis dalam budaya abak ke-20, yang lebih toleran terhadap kecemasan dibanding pada disfungsi yang secara fisiologis tidak masuk akal.


Faktor-Faktor Biologis dalam Gangguan Konversi 
Walaupu faktor genetik dianggap penting dalam terjadinya gangguan konversi, peneliti tidak mendukung anggapan tersebut. Slater (1961) meneliti tingkat kesesuaian pada 12 pasang kembar identik dan 12 pasang kembar fraternal. Salah satu dari dua orang tersebut diindikasi mengalami gangguan ini, namun tak satupun orang dari mereka yang menunjukkan suatu reaksi konversi. Dengan demikian, faktor-faktor geneti, berdasarkan berbagai studi yang telah dilakukan sejauh ini, tampaknya tidak memiliki peran penting. Secara bersama – sama, berbagai penemuan tersebut mengindikasikan bahwa faktor – faktor biologis dalam gangguan konversi harus diteliti lebih dalam.
A.5. Terapi Untuk Gangguan Somatoform     
  • Terapi Keluarga
  • Teknik pemaparan dan pencegahan respon
  • Terapi Kognitif
  • Biofeedback
  • Tekning Training Relaksasi
  • Psikoterapi Suportif
  • Terapi Remedial/Edukatif

TERAPI HYPOCHONDRIASIS

pendekatan kognitif-behavioral telah terbukti efektif untuk mengurangi berbagai masalah hipokondrial
ditujukan untuk menstrukturisasi pemikiran pesimistik semacam itu.
mengarahkan perhatian selektif pasien ke simptom – simptom fisik dan tidak mendorong pasien mencari kepastian medis bahwa ia tidak sakit
TERAPI PAIN DISORDER 
Penanganan efektif untuk gangguan rasa nyeri terdiri dari hal – hal berikut :
Melakukan validasi bahwa rasa nyeri memang nyata, dan tidak hanya berada dalam pikiran pasien;
Pelatihan relaksasi;
menghadiahi pasien karena berperilaku yang tidak sejalan dengan rasa nyeri (menahan rasa nyeri).

GANGGUAN DISOSIATIF. 
Disosiasi psikologis adalah perubahan kesadaran mendadak yang mempengaruhi memori dan identitas. Para individu yang menderita gangguan disosiatif tidak mampu mengingat berbagai peristiwa pribadi penting atau selama beberapa saat lupa akan identitasnya atau bahkan membentuk identitas baru. Gejala utama gangguan ini adalah adanya kehilangan (sebagian atau seluruh dari integrasi normal dibawah kendali kesadaran) antara lain: ingatan masa lalu, kesadaran identitas dan penginderaan (awareness of identity and immediate sensations), kontrol terhadap gerakan tubuh dan lain-lain. Dalam penegakan diagnosis gangguan Disosiatif harus ada gangguan yang menyebabkan kegagalan mengkordinasikan identitas, memori persepsi ataupun kesadaran, dan menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan dan memanfaatkan waktu senggang.

Gangguan Disosiatif bukanlah penyakit yang umum ditemukan dalam masyarakat. Tetapi juga Gangguan Disosiatif ini tidak jarang ada dalam kasus-kasus psikiatri. Prevelensinya hanya 1 berbanding 10.000 kasus dalam populasi. Dalam beberapa studi, mayoritas dari kasus gangguan disosiatif ini mengenai wanita 90% atau lebih, Gangguan Disosiasi bisa terkena oleh orang di belahan dunia manapun, walaupun struktur dari gejalanya bervariasi.

PENYEBAB 
Gangguan Disosiatif belum dapat diketahui penyebab pastinya, namun biasanya terjadi akibat trauma masa lalu yang berat, namun tidak ada gangguan organik yang dialami. Gangguan ini terjadi pertama pada saat anak-anak namun tidak khas dan belum bisa teridentifikasikan, dalam perjalanan penyakitnya gangguan disosiatif ini bisa terjadi sewaktu-waktu dan trauma masa lalu pernah terjadi kembali, dan berulang-ulang sehingga terjadinya gejala gangguan disosiatif.
Dalam beberapa referensi menyebutkan bahwa trauma yang terjadi berupa :
- Kepribadian yang Labil.
- Pelecehan seksual.
- Pelecehan fisik.
- Kekerasan rumah tangga ( ayah dan ibu cerai ).
- Lingkungan sosial yang sering memperlihatkan kekerasan.
Identitas personal terbentuk selama masa kecil, dan selama itupun, anak-anak lebih mudah melangkah keluar dari dirinya dan mengobservasi trauma walaupun itu terjadi pada orang lain.
TANDA dan GEJALA

Pada Gangguan disosiatif, kemampuan kendali dibawah kesadaran dan kendali selektif tersebut terganggu sampai taraf yang dapat berlangsung dari hari kehari atau bahkan jam ke jam.
Gejala umum untuk seluruh tipe gangguan disosiatif, meliputi :
- Hilang ingatan (amnesia) terhadap periode waktu tertentu, kejadian dan orang,
- Masalah gangguan mental, meliputi depresi dan kecemasan,
- Persepsi terhadap orang dan benda di sekitarnya tidak nyata (derealisasi).
- Identitas yang buram,
- Depersonalisasi

KOMORBIDITAS :

Orang-orang dengan gangguan disosiatif beresiko besar mengalami komorbis/komplikasi, yang terdiri dari :
- Mutilasi diri.
- Gangguan seksual.
- Alkoholisme.
- Depresi.
- Gangguan saat tidur,mimpi buruk, insomnia atau berjalan sambil tidur.
- Gangguan kecemasan.
- Gangguan makan.
- Sakit kepala berat.
Gangguan disosiatif juga selalu dihubungkan dengan penyulit yang signifikan. Orang-orang dengan kondisi seperti ini sering tidak dapat mengelola emosi dan stress dengan baik. Dan reaksi disosiatifnya dapat menyebabkan teman-temannya mengaggap dirinya aneh.
FAKTOR RESIKO 
Orang-orang dengan pengalaman gangguan psikis kronik, seksual ataupun emosional semasa kecil sangat berisko besar mengalami gangguan disosiatif. Anak-ana dan dewasa yang juga memiliki pengalaman kejadian yang traumatic, semisalnya perang, bencana, penculikan, dan prosedur medis yang infasif juga dapat menjadi faktor resiko terjadinya gangguan disosiatif ini.



PENGGOLONGAN 
Amnesia Disosiatif.
Amnesia disosiatif adalah hilangnya memori setelah kejadian yang penuh stres. Seseorang yang menderita gangguan ini tidak mampu mengingat informasi pribadi yang penting, biasanya setelah suatu episode yang penuh stres. Sering kali memori yang hilang mencakup semua peristiwa selama kurun waktu tertentu setelah peristiwa traumatic. Pada amnesia total, penderita tidak mengenali keluarga dan teman-temannya, tetapi tetap memiliki kemampuan bicara, membaca dan penalaran, juga tetap memiliki bakat dan pengetahuan tentang dunia yang telah diperoleh sebelumnya. Informasi-informasi tersebut tidak hilang secara permanent namun tidak dapat diingat kembali saat episode amnesia. Selama periode amnesia perilaku orang yang bersangkutan biasa saja, kecuali bahwa hilangnya memori dapat menyebabkan seseorang mengalami disorientasi atau bepergian tanpa tujuan.

Fugue Disosiatif.
Fugue disosiatif yang berasal dari bahasa latin fugure yaitu “melarikan diri”, adalah hilangnya memori yang disertai dengan meninggalkan rumah dan menciptakan identitas baru. Fugue umumnya terjadi setelah seseorang mengalami stress berat. Dalam fugue disosiatif, hilangnya memori lebih besar dibanding dalam amnesia disosiatif. Orang yang mengalami fugue disosiatif tidak hanya mengalami amnesia total, namun tiba-tiba meninggalkan rumah dan beraktivitas dengan menggunakan identitas baru. Walaupun memerlukan waktu yang lamanya bervariasi, namun biasanya individu dapat pulih secara total; individu yang bersangkutan tidak dapat mengingat apa yang terjadi selama ia mengalami amnesia.

Gangguan Depersonalisasi.
Gangguan depersonalisasi adalah suatu kondisi dimana persepsi atau pengalaman seseorang terhadap diri sendiri berubah. Dalam episode depersonalisasi, yang umumnya dipicu oleh stres, individu secara mendadak kehilangan rasa diri mereka. Para penderita gangguan ini mengalami pengalaman sensori yang tidak biasa, misalnya ukuran tangan dan kaki mereka berubah secara drastis, atau suara mereka terdengar asing bagi mereka sendiri. Penderita juga merasa berada di luar tubuh mereka, menatap diri mereka sendiri dari kejauhan, terkadang mereka merasa seperti robot, atau mereka seolah bergerak di dunia nyata.     Episode yang sama kadangkala terjadi dalam beberapa gangguan lain; skizofrenia, serangan panic dan gangguan stress pasca trauma dan gangguan kepribadian ambang. Gangguan depersonalisasi biasanya berawal pada masa remaja dan perjalanannya bersifat kronis, yaitu, dialami dalam waktu yang lama. Komorbiditas dengan gangguan kepribadian yang sering terjadi, juga gangguan anxietas dan depresi.

Gangguan Identitas Disosiatif.
Gangguan identitas disosiatif suatu kondisi dimana seseorang memiliki minimal dua atau lebih kondisi ego yang berganti-ganti, yang satu sama lain bertindak bebas. Menurut DSM-IV-TR, diagnosis gangguan disosiatif (GID) dapat ditegakkan bila seseorang memiliki sekurang-kurangnya dua kondisi ego yang terpisah, atau berubah-ubah, kondisi yang berbeda dalam keberadaan, perasaan dan tindakan yang satu sama lain tidak saling mempengaruhi dan yang muncul serta memegang kendali pada waktu yang berbeda. Kadangkala terdapat satu kepribadian primer dan penanganan biasanya diperuntukkan bagi kepribadian primer. Kesenjangan memori umum terjadi dan biasanya karena sekurang-kurangnya satu kepribadian tidak memiliki kontak dengan yang lain. Kepribadian yang berbeda juga harus bersifat kronis (berlangsung lama) dan parah (menyebabkan kehidupan penderita terganggu).

Secara singkat kriteria DSM-IV-TR untuk gangguan identitas disosiatif ialah:
a.     Keberadaan dua atau lebih kepribadian atau identitas.
b.     Sekurang-kurangnya dua kepribadian mengendalikan perilaku secara berulang.
c.     Ketidakmampuan untuk mengingat informasi pribadi yang penting.
Gangguan identitas disosiatif biasanya berawal pada masa kanak-kanak, dan gangguan ini lebih sring terjadi pada wanita daripada pada pria. Penegakan diagnosis lain seperti depresi, gangguan kepribadian ambang, dan gangguan somatisasi sering terjadi. GID umumnya disertai sakit kepala, penyalahgunaan zat, fobia, halusinasi, upaya bunuh diri, disfungsi seksualitas, perilaku melukai diri sendiri, dan juga symptom-simptom disosiatif lain seperti amnesia dan depersonalisasi.


ETIOLOGI

     Istilah gangguan disosiatif merujuk pada mekanisme, dissosiasi, yang diduga menjadi penyebabnya. Pemikiran dasarnya adalah kesadaran biasanya merupakan kesatuan pengalaman, termasuk kognisi, emosi dan motivasi. Namun dalam kondisi stres, memori trauma dapat disimpan dengan suatu cara sehingga di kemudian hari tidak dapat diakses oleh kesadaran seiring dengan kembali normalnya kondisi orang yang bersangkutan, sehingga kemungkinan akibatnya adalah amnesia atau fugue.
Pandangan behavioral mengenai gangguan disosiatif agak mirip dengan berbagai spekulasi awal tersebut. Secara umum para teoris behavioral menganggap dissosiasi sebagai respon penuh stres dan ingatan akan kejadian tersebut.

Etiologi GID. 

Terdapat dua teori besar mengenai GID. Salah satu teori berasumsi bahwa GID berawal pada masa kanak-kanak yang diakibatkan oleh penyiksaan secara fisik atau seksual. Penyiksaan tersebut mengakibatkan dissosiasi dan terbentuknya berbagai kepribadian lain sebagai suatu cara untuk mengatasi trauma (Gleaves, 1996). Teori lain beranggapan bahwa GID merupakan pelaksanaan peran sosial yang dipelajari. Berbagai kepribadian yang muncul pada masa dewasa umumnya karena berbagai sugesti yang diberikan terapis (Lilienfel dkk, 1999; Spanos, 1994). Dalam teori ini GID tidak dianggap sebagai penyimpangan kesadaran; masalahnya tidak terletak pada apakah GID benar-benar dialami atau tidak, namun bagaimana GID terjadi dan menetap.

TERAPI 
     Gangguan disosiatif menunjukkan, mungkin lebih baik dibanding semua gangguan lain, kemungkinan relevansi teori psikoanalisis. Dalam tiga gangguan disosiatif, amnesia, fugue dan GID, para penderita menunjukkan perilaku yang secara sangat meyakinkan menunjukkan bahwa mereka tidak dapat mengakses berbagai bagian kehidupan pada masa lalu yang terlupakan. Oleh sebab itu, terdapat hipotesis bahwa ada bagian besar dalam kehidupan mereka yang direpres. Terapi psikoanalisis lebih banyak dipilih untuk gangguan disosiatif dibanding masalah-masalah psikologis lain. Tujuan untuk mengangkat represi menjadi hukum sehari-hari, dicapai melalui penggunaan berbagai teknik psikoanalitik dasar.
             Terapi GID. Hipnotis umum digunakan dalam penanganan GID. Secara umum, pemikirannya adalah pemulihan kenangan menyakitkan yang direpres akan difasilitasi dengan menciptakan kembali situasi penyiksaan yang diasumsikan dialami oleh pasien. Umumnya seseorang dihipnotis dan didorong agar mengembalikan pikiran mereka kembali ke peristiwa masa kecil. Harapannya adalah dengan mengakses kenangan traumatik tersebut akan memungkinkan orang yang bersangkutan menyadari bahwa bahaya dari masa kecilnya saat ini sudah tidak ada dan bahwa kehidupannya yang sekarang tidak perlu dikendalikan oleh kejadian masa lalu tersebut. Terdapat beberapa prinsip yang disepakati secara luas dalam penganganan GID, terlepas dari orientasi klinis (Bower dkk, 1971; Cady, 1985; Kluft, 1985, 1999; Ross, 1989) Tujuannya adalah integrasi beberapa kepribadian. Setiap kepribadian harus dibantu untuk memahami bahwa ia adalah bagian dari satu orang dan kepribadian- kepribadian tersebut dimunculkan oleh diri sendiri. Terapis harus menggunakan nama setiap kepribadian hanya untuk kenyaman, bukan sebagai cara untuk menegaskan eksistensi kepribadian yang terpisah dan otonom. Seluruh kepribadian harus diperlakukan secara adil. 
     Terapis harus mendorong empati dan kerjasama diantara berbagai kepribadian. Diperlukan kelembutan dan dukungan berkaitan dengan trauma masa kanak-kanak yang mungkin telah memicu munculnya berbagai kepribadian.
Tujuan setiap pendekatan terhadap GID haruslah untuk meyakinkan penderita bahwa memecah diri menjadi beberapa kepribadian yang berbeda tidak lagi diperlukan untuk menghadapi berbagai trauma, baik trauma di masa lalu yang memicu disosiasi awal, trauma di masa sekarang atau trauma di masa yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar