12.22.2011

I call her, "Sugar" :)

Gadis kecilku sedang berpangkukan tangan diatas meja makan, dapur kami tak luas, tapi cukup nyaman untu dijadikan tempat berbincang dengan buah hatiku. Mata bulatnya mengerjap-ngerjap saat memperhatikanku mengupas kentang. Sup merah kegemarannya menu pilihan makan siangnya hari ini. Mulutnya sibuk mengunyah gula-gula yang dibeli neneknya sebagai oleh-oleh dari perjalanan keliling kampong halaman lalu. Napasnya mendengus-dengus pendek berirama.
Ah, buah hatiku ini sudah memiliki pesonanya sendiri sejak dini.
“Mah, capek?” aku menghentikan kesibukanku sebentar, mengamatinya sesaat, menggeleng dan tersenyum. Cantiknya gadis kecilku.
“Mah, nenek dulu juga suka mengajak mama main di dapur?” mata bulatnya jernih mengerjap-ngerjap menatapku, agaknya ia terganggu dengan uap kaldu supku.
“Nggak pernah sayang, tapi mama suka bantu nenek di dapur. Kupasin kentang, kupasin ketimun, wortel, banyak.”
“Aku sayang sama mamah dong.” Ah, kau selalu menemukan kalimatmu sendiri anakku. Kau selalu menemukan kalimat denga caramu sendiri untuk membuatku berdebar.
“Mama juga sayang kamuuu, Sugar..” aku berhenti memotong wortel, mencubit gemas pipinya.
“Kenapa sih mama suka panggil aku sugar? ”
“Karena kamu sangat manis. Lebih manis dari gula-gula yang kesukaanmu, Sugar. Sayangnya mama belum menemukan nama lain untuk memanggilmu yang manis selain Sugar. Kamu nggak suka?”
“Aku suka kok. Trus kenapa papa panggilin aku manis?”
“Karena memang kamu sangat manis. Papa sama mama kan sama-sama nge-fans kamu, Sugar.” Ku tarik kursi di hadapan gadis kecilku, menemaninya sebentar saja tak akan membuat sup merahku menjadi kehilangan cita rasanya.
“Aku dong, juga nge-fans sama mama-papa. Kaya yang di teve mah, you are my everything.” Ah, kamu selalu menemukan cara untuk merebut hati dan perhatian kami.
“Mama sama papa dong saking nge-fans nya sama kamu juga ikut-ikutan pengen bilang, I love you Kania.” Gadis kecilku berjengit girang. Melompat turun dari kursinya, memelukku.






Sebuah kisah dalam mimpi.
Dedicated for all mom n kid

12.19.2011

MISSing

Sudah 22 jam dan kamu belum juga memberi kabar. Kamu terlambat 22 jam. Dan Aku masih berdiam disini, menunggumu datang. Siapa tau kamu sedang terjebak macet yang tak bisa kamu jelaskan betapa padatnya dan susahnya kamu bergerak, sementara telepon genggammu mati, kehabisan pulsa atau ada di luar jangkauan signal kota. Yang pasti aku akan memberikan pengampunan untuk keterlambatanmu dan segala alasan yang memberatinya. 22 jam, 2 kali hujan dan angin kencang semalaman. Aku merindukanmu, tapi aku hanya bisa menunggu. Telepon genggamku sedang berjuang mengalahkan trouble, jemari tanganku juga sedang berperang melawan pengaruh pikiran dan perasaan. Aku pun kacau.

Di luar kaca jalanan masih sepi, gelap masih pekat angin masih menampar-nampar wajah malam. Mataku lelah terjaga semalaman. Kantuk benar-benar enggan menyapa perempuan yang sedang galau-balau memang. Sudah 2 pack rokok dan bergelas-gelas kopi kulewatkan tanpa cecap-sesap nikmat. Terlalu sibuk menunggumu. Kamu lama sekali. Ada apa?

Kalau kamu mau tau apa yang paling kubenci dari penantian kali ini adalah jarum jam. Sungguh aku tak pernah merasakan persis betapa cepat jarum detik berdetak menjadikan waktu pada hitungan menit. Dan sekarang tepat 22 jam dan 5 menit kau belum juga datang. Aku meletakkan jam kecil di meja ini, sungguh menyebalkan melihat 3 jarum berputar-putar. 22 jam 5 menit tanpa lampu, biar aku tak begitu terganggu dengan persis gerakan masing-masing jarum jam. Dan sia-sia saja, tetap mereka berdetak dalam bunyi, membuatku menghitung dalam hati, bahkan hatipun bisa menerka pasti pukul berapa ini.

Mataku lelah, sungguh..

***
23 jam lalu.

“Bisa kau akhiri cerita ini jika kau mengucapkannya didepanku sekarang juga. Bukankah 15 menit adalah waktu yang tak terlalu lama dibanding 3 tahun kebersamaan kita. 15 menit juga tak terlalu lama untuk aku menunggumu disini menyelesaikan segalanya diatara kita. Kutunggu disini, berhati-hatilah, aku tak akan mengganggu perjalanan beratmu, aku akan bersabar saja menunggumu disini.”

“Klik…” kamu memutuskan hubungan dari seberang dan telepon genggamku berdenyut gelisah. Tentu saja hatiku lebih dasyat lagi isyaratkan gelisahnya sendiri.

***
25 Jam lalu.

“Sudah kubilang, aku tak pernah menduakanmu sekalipun dengan pekerjaanku”
“Aku tau”

“Lalu kenapa kau begini padaku?”

“Itu yang aku tak tau. Jika kau tanya, tetap aku tak tau. Aku hanya tau aku mencintaimu. Aku yangt salah
memang.”

“Dimana salahku?”

“Ada, hanya saja aku susah mengatakannya.”

“Bisakah kamu lebih dewasa memilah cara penyelesaian masalahmu? Ayolah..”

“Aku hanya mau kamu memaafkanku. Cukup itu saja. Memang aku yang salah.”

“Aku tak bisa. Aku tak pernah menduakanmu, maka aku tak mau kau duakan sekalipun.”

Kalimat terakhirmu dalam sms. Kita selalu bertengkar dalam jarak.

***
29 Jam Lalu.

“Terimakasih sudah mengantarku pulang. Bisakah kita simpan malam ini hanya untuk kita berdua saja? Aku tak mau adikmu tau. Dia akan terluka jika tahu segalanya yang baru saja kita selesaikan.”
“Yang kita selesaikan barusan ini adalah segala hal yang kita simpan beberapa waktu sebelum kau mengenalnya. Bukan salahmu, tapi salahku yang telah membiarkanmu menungguku begitu lama.”
“Bisakah kita kembali seperti saat sebelum ada apa-apa diantara kita, walau aku telah menjalin sesuatu dengan adikmu?”
“Bisa kau pegang janjiku. Maafkan aku telah menyimpan kebodohan yang kupikir hanya akan menyiksaku seorang diri. Selamat malam.”

Sebelumnya waktu mempertemukan aku dengan kakakmu, membiarkan kami berada dalam satu tempat yang sama selama beberapa waktu, memberikan kami banyak kesempatan untuk saling jatuh cinta. Jauh sebelum aku mengenalkanmu. Kebodohanku adalah aku terlalu suka menunggu dan menyimpan. Kebodohannya adalah terlalu rapih menyimpan dan terlalu lama mempertimbangkan. Lalu kami berpisah dalam jarak dan waktu yang membuat kami pulang dengan pedih masing-masing.

Mengenalmu bukanlah sebuah kebetulan. Bertemu denganmu adalah sebuah keajaiban yang direncanakan Tuhan. Tapi mengetahui kau adalah adiknya adalah kebenaran yang membingungkan. Bukan karena rasa yang masih ada, tapi karena rasa yang tak pernah tersampaikan kembali muncul menjadi denyutan-denyutan yang mengganggu tumbuhnya cintaku untukmu.

Dan malam itu aku meminta kakakmu datang menyelesaikan urusan yang belum selesai dengan hatiku. Yang kau pikir adalah sebuah perselingkuhan, yang bagi kami adalah sebuah penyelesaian.

***
,div style="text-align: justify;">
03.15 am

Kakakmu datang. Hujan turun lagi. Aku hampir mati dihajar sakit hati.
“Kita butuh donor untuknya, kecelakaannya membuatnya harus dioperasi. Dia membutuhkan kamu.”

***
48 jam setelah itu

Aku masih disini. Kamu terlambat hampir 3 hari. Dan Aku masih berdiam disini, menunggumu datang. Kupikir ada sesuatu yang mengganggu perjalananmu, bisa jadi hujan yang turun beberapa hari ini, macet yang membuatmu sulit bergerak, atau ruang anatara kita yang sudah berbeda sama sekali. Yang pasti aku akan memberikan pengampunan untuk keterlambatanmu dan segala alasan yang memberatinya. Aku merindukanmu, tapi aku hanya bisa menunggu. Telepon genggamku sedang berjuang mengalahkan dimensi. Perasaanku sedang berperang melawan pikiran dan kenyataan yang mengatakan kamu sudah pergi dan tak akan datang lagi.





Di pojokku, pada 11:36
Di 171211
Mencoba Membuka Sesuatu

11.19.2011

Just For My Beloved Mom

Nak, hidup ini tidak susah..
Tapi harus kuat

Hidup ini tidak ramah,
Tapi bisa takluk

Hidup ini tidak rumit
Hanya saja kau perlu mawas diri

Aku juga pernah menjadi sepertimu
Meledak-ledak, bergelora dan terguncang

Aku juga pernah merasakan sesuatu yg tak jauh berbeda dg mu
Sakit hati, kecewa, terluka dan terlupa

Aku pernah juga menemukan segala yg hampir juga kau temukan dimasamu kini
Cinta, teman dan ada

Nak, hidup ini bukan masa..
Tapi akademi dengan penghargaannya sendiri

Aku pernah menang di satu frase dan mendapatkan ayahmu sbg tropi
Simbolis ketulusan cinta serta penyematan dari kesetiaan kasih

Aku pernah menang disebuah peperangan,
Dengan kisah yg berbeda...
Aku mendapatkanmu bebas menghirup nafas,
setelah aku menang bernegosiasi dg maut, untuk menggantikan posisimu denganku

Nak, sekarang saat mu...
Teruskan estafetku...




Dedicated to my beloved mom
Tina
:)

10.18.2011

Kalau Saja,..

Aku memimpikan hidup bersama kamu...

Bukan karena nanti aku akan bisa halal memelukmu, atau sah memilikimu..

Hanya saja bagiku adalah sebuah anugerah besar bisa menatapmu berlama-lama...

Hanya saja bagiku adalah suatu hal yang istimewa bahkan lebih jika bisa mendapatimu ada dekat disini...


Aku memimpikan bisa bersama-sama dengan kamu agak jauh lebih lama dari sekedar selamanya,

kalau saja...

Bagiku begitu berarti bisa memandangimu tengah malam, pagi buta atau bahkan saat terjaga membuka mata,

Andai saja...


Hhhh...

Kalau saja,...

10.06.2011

Dear God...If Only

Terkadang aku berdoa pada Tuhan kita, tapi dengan caraku sendiri...

Cara yg mereka bilang adalah jalan agamaku...



"Ya Tuhan satukan kami dengan cara terbaikmu, bukan hanya kami, tapi seluruh keluarga dan kerabat kami.

Jadikanlah kebersatuanku dan dia adalah suatu kebahagiaan juga untuk mereka, bukan hanya kami yang saling mencinta.

Karena Tuhan, ... Kami tak tau apa yang diperbuat oleh pendahulu-pendahulu kami,

sehingga mengakibatkan umatmu terpecah satu sama lain, tercerai berai sana - sini

Tuhan kami tau, kami meyakini ke-Esa-an Mu...

Kami tak memungkiri kami ada karena KuasaMu...

Tapi disini kami memohon keajaibanMu

Atas cinta yang tak pernah kami kehendaki untuk terlukai..."


Bukan aku yang memilihmu, ...

Bukan lantaran kamu lelaki yg menarik,

juga bukan karena aku sedang kesepian.

Perna kamu mendengar "Hati memilih jalannya sendiri?"

Hatiku memilih kamu...

Jangan tanyakan kenapa, karena sebelum kau tanyakan, aku telah bersusah payah jauh-jauh sebelumnya demi untuk menemukan penjelasan paling logis mengenai,

"Alasan aku mencintai kamu"

Dan memang terjadi begitu saja, seakan-akan seluruh alam dan sekitar kita berkonspirasi untuk mmembuat kita bertemu, mengenal, berbicara satu sama lain, tertawa, nyaman dan kemudian jatuh cinta...

Aku hanya sedang beusaha keras untuk mencari alasan terkuat, mengapa aku berdebar-debar saat pertama kali menatapmu, mengapa lidah ini kelu saat pertama kali akan memulai pembicaraan denganmu, dan mengapa begitu istimewa saat pertama kali menciummu...

Hatiku sudah mengisyaratkan sesuatu,

Sesuatu yang entah apa tak juga bisa ku mengerti konkritnya,

Hanya saat aku menjadi sedikit tau, ...

Aku tertarik padamu, saat mata kita bertemu tatap, saat kita bertukar suara, saat kepala ini tak berhenti menunduk, menunjukkan betapa aku menyadari ada sesuatu yang kuat yang mendorongku untuk sekedar menyentuh kamu...

Hanya saja...

Terkadang aku merasa susah, sedang di lain sisi kubu tertegar dalam diriku meneriakkan lantang hak-hak ku untuk memperjuangkan bagian dari kehidupanku..


"Apakah mencintainya adalah dosa, Tuhan? Sungguh aku tak meminta untuk dilenakan saat-saat istimewa bersamanya... Hatiku memilihnya, ... "

Hanya saja, ...

Aku dan bagian dari diriku merasa akan sangat sakit dan tercabik jika saat itu akan tiba...

Baiklah Tuhan ... Tidak ada sesuatupun yang akan terjadi tanpa ijinMu,...

Jika Kau ijinkan kami bertemu,

Kau ijinkan kami saling jatuh cinta,

Kau ijinkan kami bertahan sekian lama,

Maka ijinkanlah kami untuk terus bersama dan bahagia, ...

Atau sembuh setelah sama-sama terluka...

9.13.2011

Kepala Cenat-Cenut Karena Cinta

Deeuuuhhh..
emang asik ni main-main photoshop, scape, lightroom dsb..
kalo udah ada yg mo di buat, konsep udah dapet, autis deh!


Setelah bikin ini saya bener-bener mengalami SMASHmomment
"Kepala cenat-cenut" lantaran melototin satu-satu font, pilih2 font,
resize, crop, layer, layer lagi,...HAIS!!!

Ujung-ujungnya saya ga bisa bikin yg secakep punya doi...
buuuuuuw...


 noh...begini jadinya  (:

8.11.2011

Depresi

aku melihatmu...

kacau.

aku melihatmu...

risau.

kukumu patah,

setelah kau gores di tembok

ukirkan sebuah nama..

menyerupai namaku.

Matamu merah saga,

marah...

setelah berhari-hari menatap pongah

pada gambar berbingkai

serupai gambar wajahku

Tanganmu berdarah...

meremas tajam sesuatu dalam genggammu...

oh,..

hatiku berdenyut gelisah disana...

"lepaskan hei,... dia meronta"






di sudutku..
merenungkan sesuatu..
11.08.11